April 08, 2012

Second Sequel: Poison Goes Down

The second sequel of ‘Tears of the First Love ~Story~’
Setelah nulis tentang pertemuan Hideo dan Saphire di sequel kemarin (Sparkling Red Juice), jadi ingin nulis tentang mereka lagi XD

Sebuah sequel yang kupersembahkan pada ALIFAH AMALIA ARIF, untuk hadiah ulang tahunnya :)

Teman saya yang sesuatu, L, masih menjadi Hideo. Hahaha, Hideo milikmu, L! Yeah, mungkin nomor dua setelah biru~ OwO

Okay, let me start another story of Hideo and Saphire :D
Warning: There's a “SUICIDE SCENE” inside..
POISON GOES DOWN
***
                “Lama gak bertemu,” Hideo menampilkan senyuman. Senyuman hangat.
                “Haha, iya. Lama banget, ya,” aku memandang matanya.
                “Gimana pistol yang waktu itu? Berguna?” Hideo tersenyum lagi, senyum cool.
                “Sangat berguna,” aku menyuap sepotong cheesecake,
                “Ah, pasti kakakmu dan suaminya, ya?” aku membelalak mendengar pertanyaan Hideo.
                “Heh? Bagaimana kamu bisa tahu kugunakan untuk apa pemberianmu itu?” tanyaku kaget.
                “Aku punya banyak mata,” katanya enteng. Aku tersenyum kecil.
                “Aku suka pemberianmu. Terima kasih banget, ya,” bisikku.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke rumahku. Aku punya banyak yang seperti itu.” Hideo meminum kopi-nya.
                “Oh ya? Boleh. Sepertinya menyanangkan,” aku nyengir, membayangkan apa saja isi rumahnya.
                “Ini alamatku, datang saja,” dia memberikanku secarik kertas.
                “Terima kasih. Aku akan datang besok siang. Mungkin sekitar jam 1,” kataku. Dia mengangguk.
                “Datang saja,” dia tersenyum. Entah sejak kapan senyumannya menjadi lebih manis dibanding senyum Takeru...
                “Yang kemarin kamu berikan, itu apa?” tanyaku.
                “Yang kemarin? Oh, itu Glock 19,” katanya ringan.
                “Dari mana kamu mendapatkannya? Dan, ada berapa di rumahmu benda seperti itu?” aku bertanya, menyelidik.
                “Itu bukan masalah aku mendapatkannya dari mana,” Hideo nyengir. “Dan untuk sedikit informasi, di rumah aku mempunyai lima. Enam dengan yang kuberika padamu,” dia tertawa lepas. Ah, entah mengapa tawanya sangat merdu...
***
                Aku mengetuk pintu sebuah rumah minimalis yang diwarnai dengan cat hitam dan merah. Belum ada yang membukakan, aku mengetuknya lagi. FYI, aku sedang ada di depan pintu rumah Hideo.
                Pintu dibuka, Hideo yang membukanya. Dia memakai t-shirt biru muda dan jeans, rambutnya basah dan ada handuk tergantung di bahunya. Air masih menetes sedikit-sedikit dari rambutnya. Sepertinya dia baru selesai mandi.
                “Manusia mana yang baru mandi jam satu siang lebih lima belas menit?” sindirku.
                “Kamu tanya manusia mana? Nih, ada satu di depanmu,” dia nyengir lebar. Aku mencubit pipinya, gemas.
                “Ck, sakit! Lebih baik langsung tur, saja,” Hideo menarik tanganku, masuk ke dalam rumahnya.
                Interior rumahnya di cat biru. Beberapa barang seperti sofa dan karpet juga berwarna biru. Di pojokan ruang, ada sebuah gitar  elektrik yang dipajang. Warnanya? Biru-putih.
                “Kamu suka biru, ya?” gumamku.
                Dia tidak menjawab, tapi dia membawaku ke lantai atas. Saat sudah sampai di lantai atas, dia menarikku menuju sebuah kamar. Dia membuka kamar itu.
                “Ini adalah.... Galeri seni-ku,” dia tersenyum misterius.
                Hideo menarikku ke dalam. Dia melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sebuah lemari.
                Aku melihat-lihat isi ruangan itu. Wow, segala macam senjata api tergantung di dinding. Tidak hanya satu setiap jenis. Satu jenis bisa sampai ada tiga, atau malahan lebih.
                Hideo kembali, membawa sebuah peti besar berwarna hitam. Saat sampai di sebelahku, dia membukanya.
                “Akan kutunjukkan beberapa,” dia nyengir.
                “Ini Glock 19, persis kan dengan yang kuberikan padamu? Yang ini Barreta 92, nah ini Walther P99. Yang satu ini AK47, kalau yang ini MK-16. Ini SS-1, ini H&K G-3,” Hideo terus menjelaskan berbagai macam kepadaku. Aku mencermati setiap perkataanya. Aku ingin tahu apa yang dia suka.
                “Wow, kamu sangat menyukainya, ya?” kataku, setelah dia menyelesaikan ceramah panjangnya tentang segala macam senjata api.
                “Tentu, aku mengoleksi benda-benda ini. Dan mengedarkannya secara gelap,” dia nyengir polos.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke lemari penyimpanan pribadiku,” kataku dengan nada sombong.
                “Memang ada apa?” tanyanya penasaran.
                “Minuman keras. Kamu tahu? Aku punya wine berusia beberapa ratus tahun. Aku berani taruhan rasaya akan sangat enak,” aku tersenyum puas.
                “Nah, hobi kita sama-sama keren. Ayo pacaran saja!” Hideo tertawa renyah, suaranya menghangatkan hatiku. Aku merasa suara tawanya sudah seperti musik pengantar tidur yang sangat indah.
                “Tergantung seberapa suka kamu denganku!” aku tertawa juga. Rasanya sangat menyenangkan berada di sampingnya... Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Pada Hideo?
***
                “Hahaha! Mana ada!” aku tertawa lepas. Hideo yang ada di sampingku juga tertawa.
                “Ada! Aku!” kami tertawa kencang lagi.
                Aku dan Hideo sedang berada di taman. Dia mengajakku. Kupikir ini seperti kencan. Dan, dari tadi banyak gadis-gadis yang menatapku iri karena kencan dengan cowok keren seperti Hideo. Bagus sekali, aku merasa bangga. Hahaha.
                “Err, Saphire? Kurasa ada yang ingin aku bicarakan,” untuk sesaat Hideo terlihat ragu-ragu. Oh, jangan katakan ini perpisahan! Aku sudah jatuh cinta padanya! Jangan sampai ini menjadi pertemuan terakhir kami!
                “Yeah, katakan saja...” aku menatap langit. Tuhan, jangan bilang ini perpisahan. Tolong...
                “Saphire, je t’aime...” bisiknya ditelingaku.
                Je t’aime? Bahasa Perancis? Untuk I love you?
                “Jangan bercanda, Hideo,” kataku.  Terlalu indah untuk memercayainya bahwa yang dia katakan kenyataan. Cowok yak kusukai juga menyukaiku? Wow! Bisa saja bohong, kan?
                “Tatap aku,” katanya, dengan suara yang kalem.
                Aku menoleh padanya. Dia meraih daguku lembut dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Aku memejamkan mataku, berodoa kalau ini bukan mimpi.
                Bibirnya terlepas dari bibirku, aku membuka mataku dengan perlahan. Aku merasakan kalau wajahku memanas. Aku menatap matanya, yang baru kusadari berwarna biru seperti laut. Entah kenapa aku baru sadar warna matanya seindah itu. Kemana saja aku selama ini, tidak memperhatikan matanya yang sangat jernih itu?
                “Aku tidak akan mencium gadis yang tidak benar-benar kusukai,” katanya lembut, balas menatap mataku.
                Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Lalu menciumnya. Heh, boleh kan, cewek yang mulai duluan?
                Dia memperdalamnya ciuman kami. Bibirnya melumat bibir bawahku, dan aku membalasnya dengan melumat bibir atasnya. Oh God, it does feels like heaven. Aku membuka mulutku, meberinya akses masuk. Membuat kami terus berciuman, entah sampai berapa kali.
                Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. “Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu...” bisikku. Dia mengecup singkat puncak kepalaku.
                “Aku tak akan melepaskanmu,” bisiknya. Kami berdua tersenyum.
***
                “Saphire, katakan pada Mama dengan jujur!” Mama menggertakan giginya.
                “Iya, aku pacaran dengannya! Memang kenapa?” tantangku.
                “Saphire, jaga cara bicaramu,” Papa memperingatkan.
                “Saphire! Jangan bercanda!” mata Mama membulat.
                “Aku memang tidak bercanda,” kataku dengan nada tidak peduli.
                “Jangan gila, Saphire! Dia pengedar senjata api!” teriak Mama, sepertinya frustasi.
                “Lalu? Memangnya ada masalah dengan itu?” tanyaku.
                “Dia mengedarkannya, Saphire! Dia pengedar! Dia memiliki potensi membahayakan Negara, tahu tidak?! Kalau dia menyebar luaskan senjata itu, teroris bisa saja membelinya dan menembak orang-orang! Dan, bagaimana kalau kamulah yang tertembak?!” Mama berteriak lagi.
                “Mama, sekarang aku mengerti semua maksudmu. Kau tidak mau aku tertembak karena tak mau mengurusi pemakamanku, kan?” aku masih dengan nada tidak peduli.
                “Saphire! Jaga ucapanmu!” Papa memperingatkan sekali lagi, dengan nada yang lebih keras.
                “Kalian tak perlu bayar biaya pemakamanku. Rekeningku masih cukup banyak isinya untuk biaya pemakaman beberapa orang. Kalau kalian tidak mau mengeluarkan uang kalian yang sangat berharga untuk bayar biaya pemakaman anak yang tidak berguna ini, pakai uang dari rekeningku saja,” ujarku.
                “Saphire!” jerit Mama kaget.
                “Ya Tuhan, Saphire! Apa sih yang merasukimu?” Papa juga tampak kaget.
                Aku pergi dari ruangan tanpa ba-bi-bu. Aku bisa mendengar tangisan Mama, yang menurutku terdengar agak berlebihan. Aku tahu dari dulu, kok, kalau mereka lebih sayang pada Skye daripada aku. Urusan itu sih terlihat dengan sangat jelas, ya.
                Jadi, kurasa, kalau aku mati, hidup mereka malah lebih tenang, kan?
***
                “Hubungan kita tidak disetujui Papa dan Mamaku...” bisikku pelan. Kami sedang di taman kota, kencan.
                “Aku sudah tahu,” katanya.
                “Tapi sampai kapanpun, aku akan terus bersamamu,” ucapku, tersenyum lembut.
                “Aku akan mati bersamamu,” kata Hideo pelan.
                “Tunggu disini sebentar,” kataku, Hideo mengangguk.
                Aku melangkah ke sebatang pohon besar dengan daun yang rimbun. Pohon ini adalah pohon yang paling besar di taman ini. Aku mengeluarkan pisau lipatku. Mengukir kata-kata di batang pohon itu.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...
            Aku mengantungi lagi pisau lipatku. Aku menatap puas hasil karyaku yang sekarang terukir batang pohon.
            Aku berlari. Kembali ke Hideo.
            “Apa yang tadi kamu lakukan?” tanyanya, menyelidik.
            “Tidak ada,” jawabku riang. Dia tak perlu tahu...
***
                “Saphire, tadi Mama mendapat laporan dari salah seorang tetangga kalau kau ada di taman kota bersama laki-laki itu,” kata Mama galak.
                “Ya, tetangga yang baik. Informasi yang dia berikan akurat. Sore ini aku memang kencan dengan Hideo,” kataku.
                “Saphire! Mama sudah memperingatkanmu!” gertak Mama.
                “Dan aku terlalu mencintainya,” jawabku.
                “Kau bukan Saphire-ku! Kau bukan Saphire anakku! Saphire tidak begini! Saphire seorang anak yang sangat manis dan penurut!” teriak Mama.
                “Mungkin. Tapi lihat saja besok,” desisku, lalu pergi meninggalkan Mama yang masih mengomel.
***
            Aku ada di ruang bawah tanah rumah Hideo. Aku tidak tahu rumahnya punya ruang bawah tanah senyaman ini. Semuanya sudah diatur Hideo agar menjadi tempat persembunyian yang aman dan nyaman. Didekor olehnya dengan benda-benda berwarna biru.
                “Saphire, kamu yakin?” tanya Hideo kalem.
                “Aku sangat yakin, Hideo,” bisikku.
                “Aku tahu ibumu membenciku. Tapi, apakah menurutmu semuanya harus berakhir begini?” tanyanya halus. Suaranya halus, lembut. Seperti kain sutra...
                “Aku pribadi, sih, yakin. Ini keputusan finalku. Sisanya, itu ada pada tanganmu,” aku menatapnya sayu.
                “Seperti yang kukatakan padamu di taman waktu itu. Aku akan mati bersamamu,” jawabnya kalem.
                Kami berbaring di karpet biru Hideo, masih di ruang bawah tanahnya. Tangan kiriku bergandengan dengan tangan kanannya, dan tangan kananku membawa sebuah suntikan. Suntikan berisi racun, yang berbahaya bagi manusia.
                “1, 2, 3...” kami menghitung bersama.
                Saat hitungan kesepuluh, aku dan Hideo secara bersamaan munyuntikan racun itu ke tubuh kami masing-masing. Aku memejamkan mata.
                Ruang bawah tanah ini hanya bisa dibuka dengan menggunakan kata kunci dan dilengkapi pengamanan super canggih. Dan hanya Hideo yang mengetahui kata kuncinya. Mungkin, jika suatu saat kami ditemukan, kami sudah tinggal tulang belulang berselimut debu...
***
NORMAL POV
                Di taman kota, di batang sebuah pohon yang paling besar di sana, terdapat dua ukiran tulisan. Satu ditulis oleh seorang perempuan, dan satu lagi adalah balasannya, dari kekasihnya. Yang entah kapan diukir di batang pohon tersebut.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...

Saat bersamamu, aku merasa berbeda. Aku bisa melakukan yang sebelumnya kurasa tak dapat kulakukan... Hanya saat bersamamulah, aku bisa menjadi aku...

Dariku, Hideo Xavier Stephenson. Untuk gadisku, Saphire... Kita memang ditakdirkan 
untuk selalu bersama...

~*The End*~

Merasa kurang puas dengan sequel kemarin, semakin membangkitkan semangat untuk nulis ini XD
Ide awal, Hideo dan Saphire bunuh diri setelah kawin lari gak jadi di pakai. Kesannya lebay, banget XDDD
Thanks for read :)                                       
Aku menyelesaikannya dalam sehari, sampai jam 12:08 AM XDD

April 05, 2012

Sparkling Red Juice


Sequel dari TEARS OF THE FIRST LOVE ~STORY~
Atas permintaan Alifah Igor Tarigan Queen Alifah The Third :D
My friend, L, as Hideo :D 


Tears of the First Love ~Story~ Sequel:
SPARKLING RED JUICE

Author: Za-ra
Rate: M for bloody scene
Genre: Angst/Crime
Warning: Bloody scene all over the story, gaje, abal, aneh, better to read the first story: Tears of the First Love ~Story~

Aku tidak peduli lagi tentang apapun. Meskipun jalan yang kuambil merupakan pilihan terakhir yang membuatku lebih kotor, lebih berdosa dari pada makhluk hidup lain yang hidup di bumi. Persetan dengan semuanya, aku benci dia...


Chapter 1 : Meet
                “Saphire!” lengking seseorang, memanggil namaku. Lamunanku buyar. Ah, dia.
                Aku sedang di bandara, menjemput kepulangan Mama dan Skye, bersama Papa. Dan tebak apa, dia ada di hadapanku sekarang. Dan tahu tidak, dia menggandeng cowok itu. Ya, cowok itu...
               Takeru Yo, suaminya, sekaligus cowok yang kutaksir, sampai sekarang. Aku kenal cowok itu, Takeru Yo, di Facebook, dan dengan menyebalkan, Skye menikahinya. Cih, dasar kakak sialan si Skye itu!
                Aku dendam padanya. Bisa-bisanya dia dan aku naksir cowok yang sama (walau dia gak tahu aku naksir suaminya sampai sekarang. Kita tinggal terpisah dan tidak pernah sama sekali berkomunikasi), dan kemudian dia menikahi cowok itu. Shit, apa-apaan itu?!
                Dan sekarang, Skye dan suaminya itu ada di depanku, dengan wajah bahagia. Damn, benar-benar menyebalkan.
                Seseorang memelukku dengan erat. Pasti Skye. Bau parfumnya tercium jelas di hidungku. Baunya manis, sangat manis, aku curiga komposisi parfum itu termasuk esens es krim dan satu batang lolipop. Sangat bukan tipe parfum kesukaanku. Aku suka yang menyengat, tapi tidak manis.
                Skye melepaskan pelukannya, berdiri di hadapanku dengan wajah berseri-seri. Rambut merahnya berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, menimbulkan efek dramatis. Dia memakai tanktop pink, jaket abu-abunya dia ikat di pinggang. Dia melengkapinya dengan hotpants jeans-nya, juga wedges pink dan kacamata ber-frame merah. Dia melapisi wajahnya dengan bedak tipis, memakai maskara dan memoles bibirnya dengan lipstick baby pink.
                Takeru, kakak iparku yang sangat kucintai setengah mati (sebagai laki-laki, bukan kakak), dia memakai t-shirt putih dengan potongan leher v-neck dan celana jeans. Dia menggunakan sneakers hitam. Simple. Seksi.
                Engh, ternyata Takeru (yang merupakan laki-laki yang kucintai sampai sekarang. Persetan dengan pernikahannya dengan Skye) aslinya lebih seksi daripada fotonya. Kulitnya putih bagai mutiara, bersinar di bawah matahari bagaikan kristal. Wajahnya tegas, terlihat dingin, tapi imut pada saat yang bersamaan.
                “Apa kabarmu?” tanya Skye dengan semangat menggebu-gebu. Sepertinya dia mau meledak. Aku hanya menatapnya dingin.
                “Eh? Ini suamiku, Tekeru!” Skye mungkin menyadari aku berubah sikap, jadi dia langsung mengubah arah pembicaraan.
                “Takeru Yo, desu!” kata Takeru. Oh astaga, suaranya seksi sekali.
                “Saphire Rose Angelline, desu. Yoroshiku onegaishimasu!” jawabku. Gini-gini aku juga bisa Bahasa Jepang sedikit-sedikit!
                “Saphire? Angelline? Tunggu sepertinya kenal...” Takeru terlihat berfikir. Ayo, ingat aku. Ingat aku...
                “Saphira Saphire Angelline, eh?” akhirnya dia mengingatnya! Aku mengangguk.
                “Benar,” aku tersenyum sedikit.
                Takeru memelukku. Dia mengangkatku ke udara seperti anak kecil. “Saphire my lil’ sister!” teriaknya. Aku tertawa renyah. Meskipun dia menganggapku sebagai adiknya, terserah. Yang penting dia memelukku. It does feels like heaven... Yeah, karena aku memang cinta padanya.
                “Ho? Kalian sudah kenal, ya?” tanya Skye, melongo. Cih, tambah jelek saja! Aku tidak mengerti Takeru kelilipan pasir dari negara mana sampai mau menikah dengan Skye. Bagusan juga aku kemana-mana!
                Takeru menurunkanku dan melepas pelukannya. “Ya, kami kenal di Facebook. Adikmu ini lucu, sekali lho, love.” Takeru tersenyum menggoda. Bukan untukku, untuk Skye. Cih.
                “Kau lupa dia adik siapa. Dia adikku, dear~” balas Skye. Cih, aku muak! Aku sebal! Benci! Benci! Benci!
                Papa menyela, sambil menggandeng mama, “ayo pulang. Kalian pasti capek, kan?” kata Papa. Membuat kami semua diam dan mengikutinya ke parkiran.
***
                Sampai di rumah, aku lansung masuk ke kamarku, tidak lupa untuk membanting pintunya. Aku lansung membaringkan diriku di kasur. Tapi belum lima menit aku beristirahat, ada ketukan di pintu. Aku membukanya. Ugh, Skye!
                “Boleh aku pakai kamar mandimu, Saphire? Kamar mandi di kamarku di pakai Takeru...” kata Skye.
                Rasanya aku ingin menyahut ‘mandi saja sana sama Takeru-mu! Dia kan suamimu!’ tapi tak jadi. Nanti dia benar-benar memakai saranku. Otaknya kan gak pernah betul dari dulu.
                “Silahkan pakai,” aku memutuskan memberikannya tumpangan untuk mandi di kamar mandiku.
                “Terimakasih!” serunya girang, sebelum melesat ke kamar mandi.
                Aku menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tak lama, aku mendengar pintu kamar mandi dibuka.
                “Terimakasih, ya, Saphire! Um, untuk sementara sabun dan shampoo-ku kutitip di kamar mandimu, boleh?” tanyanya. Aku mengiyakan saja supaya cepat.
                Aku masuk ke kamar mandiku, bau sabun Skye tercium. Oh, astaga! Aku melangkah masuk, menuju kearah rak yang berisi sabun dan shampoo. Aku meraih sabun yang asing, sabun milik Skye.
                Aku membaca tulisan di botol sabun cair milik Skye. Ugh, pantas saja! Dia memakai es krim rasa vanilla untuk mandi! Aku juga meraih shampoo-nya. Gah, dia juga memakai es krim vanilla yang sama untuk keramas, rupanya!
                Sabar, Saphire, sabar. Hidupmu belum berakhir sekarang. Kau masih terlalu muda untuk bunuh diri...
Chapter 2 : Vacation
      “Hah? Aku?” mataku terbelalak.
                “Iya! Kami ingin mengajakmu juga. Aku sangat merindukanmu, tau, Saphire! Maka itu, kami ingin mengajakmu liburan sama-sama!” Skye nyengir, Takeru tersenyum.
                “Oke, aku ikut,” aku memaksakan tersenyum, dan dalam hati aku melanjutkan perkataanku, ‘demi Takeru’.
                “Kita berangkat siang ini,” Takeru tersenyum manis.
                “Ayo siap-siap!” seru Skye girang. Huh, cerewet!
***
                Aku lupa apa yang terjadi selama perjalanan. Tiba-tiba saja, aku sudah terbaring di kasur penginapan. Halah, peduli amatlah!
                Aku sendirian di kamar ini. Berarti Skye dan Takeru ada di kamar sebelah. Aku keluar dari kamar, tentunya setelah membereskan penampilanku.
                “Hei!” aku mendengar seseorang menyapaku. Aku menengok. Eh? Orang asing?
                “Siapa namamu? Aku anak pemilik penginapan. Hideo Stephenson!” aku pasang wajah bingung. Namanya belasteran banget! Dan satu lagi, marga-nya sama dengan marga sahabatku yang bernama Amber Stephenson. Dunia akan terasa sangat kecil kalau mereka ternyata sepupu.
                “Saphire Rose Angelline,” aku tersenyum sedikit.
                “Di basement penginapan ini ada bar-nya, lho. Mau kesana?” Hideo tersenyum iseng.
                “Ayo!” aku menyanggupinya.
***
                “Kau mau apa? Pernah minum sebelumnya? Kalau belum, biar kupesankan soda,” tanya Hideo.
                “Aku mau cocktail. Pilihkan cocktail apapun lah, terserah. Dan ya, aku pernah minum. Wine sekali pada acara keluarga, champagne pada pernikahan teman papaku, beberapa kali cocktail juga,” aku menjawab sembari dia memesan minuman.
                “Kamu kelihatan masih kecil...” dia memasang wajah curiga.
                “Ho, terima kasih,” aku memutar bola mataku.
               “Aku tidak tega mencekoki anak kecil dengan cocktail. Kamu kubelikan soda,” Hideo menyerahkan soda padaku. Ha, dia ternyata juga cuma beli soda! Kupikir, dia justru mau minum apa, gitu. Bourbon, cognac, vodka, sherry, gin, tequila, champagne, atau apalah terserah.
                “Hey, Hideo,” kataku, memanggil namanya.
                “Hm?” balasnya, sambil menyeruput sodanya.
                “Kalau kamu naksir seseorang, benar-benar cinta mati padanya, kemudian dia menikah dengan seseorang. Apa yang kira-kira akan kamu lakukan?” tanyaku.
                “Aku? Aku mungkin akan jadi orang paling jahat sedunia. Aku akan membunuh orang itu,” kata Hideo dengan nada dingin. Aku tersedak soda.
                “Gila kamu!” kataku kaget, setelah bisa mengatur nafas.
                “Aku gak mau kehilangan orang yang kusayang. Itu saja,” jawab Hideo kalem.
                “Wow, kamu keren, Hideo!” aku tersenyum.
                “Hahaha. Nah, kurasa aku ingin memberikanmu ini,” Hideo mengeluarkan pistol dari sakunya. Aku kaget, buat apa dia bawa-bawa pistol?
                “Hi-Hideo?” aku memandangnya penuh tanda tanya.
                “Siapa tahu kamu butuh. Simpan saja.” Hideo memberikan pistolnya padaku, beserta beberapa peluru berwarna keperakan.
                Kami berdua menghabiskan soda kami dalam diam...
***
                Aku melangkah ke dapur penginapan. Mengambil sebuah pisau daging. Seperti kata Hideo sebelumnya, siapa tahu aku membutuhkannya...
***
Chapter 3 : Under The Moonlight
                “Skye, Takeru! Ayo temani aku ke hutan. Ayo kita melihat bulan!” aku berkata dengan ramah. Tanganku kumasukkan ke kantung jaketku. Jariku bisa merasakan ujung pistol disana. Terasa hangat.
                “Ayo!” seru Skye, dan dalam lima menit berikutnya, kami sudah berjalan menuju hutan.
                Aku memimpin jalan dalam diam. Terkadang aku mendengar Skye bersenandung tidak jelas.
                Kami sampai. Tepat di tengah hutan. Tempat yang sangat sepi.
                “Eh? Memang disini bisa melihat bulan?” tanya Skye polos.
                “Gelap dimana-mana,” celetuk Takeru iseng.
                Di dalam kantung jaketku, aku memasukkan satu peluru berwarna keperakan pemberian Hideo. Aku mengeluarkannya. Menimang-nimang pistol itu di hadapan Skye dan Takeru. Mata Skye membelalak.
                Aku mengarahkan pistol itu kearah Takeru, yang memasang wajah kagetnya. Tanpa ba-bi-bu, aku menembaknya. Bunyinya keras, tapi tidak akan terdengar. Kami benar-benar ada di tengah hutan.
                Peluru itu secepat kilat membunuhnya. Sekarang, pasti peluru itu bersemayam di jantungnya. Darah berhamburan dari bekas lukanya.
                Skye menjerit-jerit seperti kesetanan. Tapi dia tak beranjak satu sentipun dari tempatnya.
                Aku berlari kearah Skye. Meraih pisau dagingku. Dan saat aku berhadapan dengannya, aku tersenyum dingin. Skye tidak mengatakan apa-apa. Kurasa dia terlalu takut.
                Tanpa belas kasihan, aku menikam jantungnya dengan pisau daging yang kudapatkan. Mata nya membelalak, nafasnya tesengal-sengal. Sampai akhirnya, aku tak merasakan dia bernafas lagi.
                Aku membelah tubuhnya. Mengeluarkan jantungnya. Aku meraih tangan Skye. Memotong jari-jari lentiknya dengan pisau. Dia tidak berteriak. Nyawanya sudah hilang. Kalau masih bernyawa, aku yakin dia akan berteriak kencang dengan suaranya yang melengking.
                Aku mengkuliti badannya, mencincang dagingnya, menghancurkan juga semua organ dalamnya. Dalam waktu yang singkat, pisauku penuh dengan darah. Terlihat mengkilat di bawah sinar bulan.
                Aku mengambil sebuah botol kecil, membuka tutupnya. Kemudian aku meneteskan darah Skye ke botol kecil itu. "Sparkling Red Juice..." desisku.
                Aku menyalakan api, membakar mayat Skye agar tak bersisa. Aku berjalan pelan kearah mayat Takeru yang sudah dingin.
                Aku mencium bibir mayat Takeru. Sebuah ciuman yang panjang. Sampai aku melepasnya, karena tidak dapat menemukan kehangatan di sana. Dia sudah mati. Sudah pergi. Aku yang membunuhnya...
                Aku menguburkan mayat Takeru. Tidak membuat sebuah gundukan, aku meratakannya dengan tanah. Agar tak ada yang bisa menemukannya.
                Aku kembali ke mayat Skye. Sudah menjadi abu. Aku mengambilnya sedikit, kumasukkan kedalam botol kecil yang sudah ada darah Skye. Aku mengocoknya.
                Aku meraih botol minumanku, kemudian mencampurkan campuran darah dan abu ke air minumku. Aku menegaknya seperti kehausan.
                Abu Skye kubawa. Kemudian aku tiup ke udara. Selamat tinggal Skye...
Chapter 4 : Another Lie
‘     “A.. Aku tidak tahu... Hiks,” aku menangis sesengukan. Sebenarnya, pura-pura menangis sesengukan.
            “Kita hanya bisa pasrah... Semoga mereka pulang,” Mama memasang wajah sedih, begitu pula Papa.
            Maaf aku berbohong. Mereka bukannya hilang karena pergi berdua. Tapi aku yang membuat mereka berdua pergi. Maaf aku berbohong...
**The End**

March 26, 2012

Tears of the First Love ~Story~


Ini... Permintaan Alipeh Igor Tarigan temen sekelas tersayang~ 
Dia minta ini dipublish di blog karena males baca di buku kumpulan cerpen -_-
Semoga yang lain juga pada suka~
Read and Review, ya~

WARNING: KEPANJANGAN!!!

--Tears of the First Love ~Story~--
~~≈~~
Ketika aku membanting tubuhku ke atas kasur, aku memperbaiki letak earphoneku. Aku tak begitu peduli dengan lagu yang sedang diputar. Saat aku memperhatikan lagu apakah itu, lagu itu berkata, ‘You are moonlight, don’t leave me alone,’ membuatku teringat denganmu, dengan kisah cinta tak sampai ini. Dua tahun sudah aku tidak mengetahui kabarmu, setelah malam itu. Dimana aku menangisimu hingga aku jatuh tertidur, masih dengan posisi yang sama saat aku menangisimu. Dimana kau mengirimiku sebuah pesan terima kasih karena mendukungmu dalam kisah cinta barumu...

Disini, aku membeberkan semuanya. Kisah cinta tak sampai-ku dan segala keburukanku yang tidak pernah diketahui oleh orang lain. Yang selama ini selalu kujaga dan kusimpan rapat-rapat...

Semua yang ada di sini hanya fiksi. Bila ada kesamaan nama, cerita, kejadian, tempat dan yang lain-lain, itu hanya kebetulan semata.
~~≈~~

 Chapter 1
~~≈~~
                Lelah. Hanya itu yang ada di pikiranku. Setelah mengurusi urusan OSIS hingga selarut ini. Tidak biasanya. Handphoneku bergetar, membuatku meraihnya dan melihat SMS dari siapa itu. Ah, teman rupanya.
Amber Stephenson
Saphire! Kau sudah pulang, babe? Terlambat, ya? Hajar saja si Rick besok :P
           Aku tersenyum sedikit. Amber adalah temanku. Kami sebangku. Aku tidak akan membalas SMS-nya yang ini. Dia sudah mengerti bahwa jika aku tidak membalasnya, pasti aku sedang lelah. Bahkan terlalu lelah untuk beranjak dari kasur dan mandi.
            Aku meraba-raba bawah bantal, mencari earphone kesayanganku. Tidak ada di bawah bantal. Aku berusaha bangun dan berjalan menuju meja rias. Aku membuka laci meja rias dengan mata nyaris terpejam. Ah, itu dia. Itu dia earphone-ku sayang. Aku memakai earphone itu. Kanan dengan stiker huruf R dan kiri dengan stiker huruf L.
            Aku membanting tubuhku ke atas kasur, aku memperbaiki letak earphoneku. Aku tak begitu peduli dengan lagu yang sedang diputar. Saat aku memperhatikan lagu apakah itu, lagu itu berkata, ‘You are moonlight, don’t leave me alone,’ membuatku teringat padamu, dengan kisah cinta tak sampai ini.
             Dua tahun sudah aku tidak mengetahui kabarmu, setelah malam itu. Dimana aku menangisimu hingga aku jatuh tertidur, masih dengan posisi yang sama dengan saat aku menagisimu. Dimana kau mengirimiku sebuah pesan terima kasih karena mendukungmu dalam kisah cinta barumu. Ah, kupikir selama ini kau tahu bahwa ada yang terluka disini. Aku.
~~Flashback Start~~
            Amber memaksaku untuk membuka Facebook. Facebook adalah hal yang selama ini kutelantarkan. Dia memintaku untuk meng-confirm friend request darinya dan teman-teman baru kami. Yeah, aku baru pulang dari sekolahku. Ini hari keduaku disana sebagai seorang murid kelas dua SMA.
            Aku meng-confirm semua friend request bertotal lima puluh friend request. Sesudah meng-confirm semuanya, aku malah menjadi bingung. Apa yang harus kulakukan? Dan saat itu, aku melihat status itu. Statusmu.
Takeru Yo the worst girl!
            Membuatku tertarik pada sebuah fakta bahwa nan jauh disana ada yang sedang patah hati karena pacarnya. Ha, ini membuatku yang terlanjur tahu keadaanmu menjadi penasaran. Aku menyapamu di wall-mu.
Saphira Saphire Angelline hey, are you okay?
            Dan kau membalas dengan cukup cepat pertanyaan dariku itu. Itu membuatku lega sedikit, tapi aku menjadi ingin tahu kelanjutannya. Sayang, kau bukan tipe orang yang menulis balasan di wall-ku, tapi di komentar.
Saphira Saphire Angelline hey, are you okay?
Takeru Yo  it’s not a big deal, anyway. But I’m okay. Thanks for worrying
Saphira Saphire Angelline okay. Cuz you seems like being crazy. Hehe :P
            Ah, aku ingin menanyakan satu-dua hal yang lain. Tapi ini bersifat private. Kurasa, jika aku membeberkannya di wall-mu, kau akan merasa terganggu. Apalagi karena aku menuntut jawaban.
Saphira Saphire Angelline can I send you inbox about something? If you let me, I’ll. But if you don’t, I will not :)
Takeru Yo ummm, okay :)
Saphira Saphire Angelline thank you, arigatou, gomawo, merci, gracias, grazie, xie xie, terima kasih (well, I’m just copy it from online translator :P)
Takeru Yo ahahah, you’re funny ;)
            Aku tersenyum sendiri saat membaca komentar itu. Well, tidak sepenuhnya aku copy dari penerjemah. Karena aku tahu beberapa seperti gomawo, arigatou, thank you dan terima kasih tentu saja.
            Aku baru memperhatikan profile picture-mu sekarang. Seorang cowok tinggi dengan body yang sexy (sigh, apa yang kutahu soal sexy?) mengenakan t-shirt v-neck hitam dan jaket berwarna putih. Wajahmu ganteng, terlihat semakin cool dengan rambutmu yang lumayan panjang ala cowok Jepang di shoujo manga yang sering kubaca dan sebuah kacamata dengan frame putih. Kau sedang menyerigai, kelihatan sangat menggoda. Jangan tanya padaku seberapa menggodanya kau.
            Aku benar-benar mengirimimu inbox. Aku bertanya, apakah yang membuatmu stress adalah kekasihmu. Dan kau menjawab ‘iya’ aku hanya bisa bilang padamu, semoga kau dan dia baikan. Di inbox itu, aku menghiburmu dengan hal-hal konyol. Setidaknya kau bisa tertawa sedikit.
            Hari-hariku dipenuhi olehmu. Komentarmu, inbox-mu. Dan tanpa aku tahu kau menyelusup ke dalam hatiku. Aku baru sadar ketika suatu malam aku memimpikanmu. Saat aku terbangun, hanya satu hal yang ada di kepalaku. Kau.
            Aku menanyakan kabar hubunganmu. Dalam hati aku berharap kau atau dia memutuskan hubungan kalian. Aku benar-benar jahat. Aku merasa semakin jahat ketika aku mengetahui kalian sudah putus. Aku merasa semakin jahat karena bukannya bersedih karena salah seorang temanku, yaitu kau, putus, hatiku malah bersorak sorai bahagia.
            Ya, aku bahagia. Sangat bahagia. Aku senang, sangat senang. Kau putus, adakah kesempatan untukku? Mungkin. Aku adalah seseorang yang muncul pada saat kau bersedih. Aku menghiburmu saat kau bersedih. Artinya, aku memang ditakdirkan untuk ada disampingmu, kan? Menggantikan posisi cewek jahat yang kini menjadi mantanmu untuk mengisi hatimu, kan? Yang kesimpulannya berarti aku ini diciptakan untukmu. Apapun yang terjadi, kau akan jadi milikku karena aku takdirmu, kan? Bukankah begitu? Sayangnya, aku memang terlalu percaya diri.


Chapter 2
~~≈~~
            Aku kembali membuka Facebook hari ini. Tidak, tidak. Bukan karena Amber memintaku menerima permintaan saudara darinya (sebenarnya, Amber memang memintaku untuk menerima permintaan persaudaraan darinya). Tapi karenamu. Ya, karenamu.
            Aku ingin melihat balasan darimu. Aku yakin kau mengetahui perasaanku. Aku yang selama ini care pada hal-hal kecil tentangmu, bukankah itu sudah cukup? Aku menanyakan apakah kau sudah makan dan hal-hal kecil yang tak begitu penting bagi seorang gadis biasa. Tapi aku bukan gadis biasa, aku gadis yang sedang jatuh cinta.
            Kau membuatku nyaris sakit jantung. Tidak ada balasan darimu. Tidak ada komentar baru dari post yang kutulis di wall-mu. Tentu saja aku kaget. Selama ini kau adalah orang yang sangat berisik dan seru. Adalah sebuah keanehan melihat tidak ada satu pun notification darimu.
            Aku menunggumu dalam diam. Setiap hari kuhabiskan untuk menunggumu, menunggumu, menunggumu dan terus menunggumu. Aku nyaris lupa padamu sampai headphone-ku yang kupakai hanya untuk mendengarkan lagu dari notebook merah mudaku memutar sebuah lagu yang lagi-lagi mengingatkanku padamu. Avril Lavigne, When You’re Gone.
            I've never felt this way before, everything that I do reminds me of you. Ya, aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Apapun yang kulakukan membuatku teringat padamu. Kau tahu? Bahkan saat guruku sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, aku malah teringat pada obrolan kita. Membuatku ditegur oleh guru itu. Dan mungkin itu belum terlalu berpengaruh padaku, tapi jika aku malah tertidur dan memimpikanmu, itu akan menurunkan reputasi yang selama ini kujaga, kan? Apalagi aku masih anak kelas satu.
            Do you see how much I need you right now? When you're gone, the pieces of my heart are missing you. Aku ingin berteriak. Tidakkah kau tahu seberapa aku membutuhkanmu sekarang? Aku sangat, sangat merindukanmu.
            Everything I'd do, I'd give my heart and soul, I can hardly breathe I need to feel you here with me.  Aku nyaris jantungan saat melihat tidak ada satu pun notification yang masuk adalah darimu. Yang kubutuhkan adalah kau ada disini. Meskipun hanya bilang ‘hi’ padaku dan offline lagi. Ya, meskupun hanya bilang ‘hi’, itu cukup untukku. Sangat sangat cukup.
            Tapi aku tetap menunggumu. Aku nyaris menangis setiap hari saat kau benar-benar hilang dari sisiku. Aku benar-benar kehilanganmu. Kehilangan jejakmu. Yang ada di wall-mu hanya berita-berita bahwa kau di tag di foto atau note milik orang lain. Mungkin aku akan merasa lebih baik jika itu adalah foto yang kau upload dan note yang kau buat.
            Aku melihatnya di wall-mu. Gadis itu. Seorang gadis yang selalu membuatku muak. Semua orang ramah padanya. Aku berani bertaruh itu karena profile picture-nya. Seorang gadis bertampang imut dengan mata bulat besar. Dan setelah kuselidiki siapa yang ada di profile picture itu, aku tidak terkejut. Itu adalah seorang artis. Atau model majalah, terserah.
            Dia tidak begitu tinggi. Dengan tinggi-nya itu, gadis itu pernah dibilang imut oleh seseorang. Aku ikut bergabung di pembicaraan mereka. Saat seseorang itu menanyakan tinggiku, aku menjawabnya dengan jujur. Dia berkata itu tidak sekedar ‘cute’ tapi ‘mega cute’ karena aku masih bisa bertambah tinggi lagi.
            Aku selalu sebal pada dia, gadis itu. Entah mengapa, aku selalu ingin mengalahkannya dalam apapun yang dia lakukan. Dan entah mengapa aku selalu berhasil. Aku mengalahkanya dalam jumlah teman Facebook yang kami miliki. Awalnya, aku tertinggal sangat jauh darinya dia 790 dan aku 688. Tapi aku bisa mengalahkannya dalam sekejab, empat hari. Dia masih berkutat di angka 820 dan aku mulai menghampiri angka 1,100. Dia membuat note dan men-tag aku dan kau. Kemudian aku membuat note tentang hal yang sama. Tentang tiga puluh pertanyaan. Aku kemudian men-tag dia dan kau. Aku membeberkan jawaban yang fantastis tapi nyata, berbeda dengan dia yang memberikan jawaban yang biasa saja.
            Aku menganggap enteng dia, gadis itu. Aku terlalu meremehkan dia. Aku menganggapnya hanya rival biasa karena gadis seperti itu tak mungkin merebut hatimu. Mana mungkin hatimu bisa tertambat pada gadis menyebalkan seperti itu? Menganggap enteng dia, gadis itu, adalah sebuah kesalahan besar. Gadis itu bukan rival enteng, tapi rival terburuk selama aku hidup. Tapi aku dibutakan dengan segala kelebihanku dibanding dia. Lagi-lagi, aku terlalu percaya diri.


Chapter 3
~~≈~~
            Berturut-turut aku menulis di wall-mu. Mulai dari sapaan seperti biasanya, hingga sebuah sapaan yang menggambarkan bahwa aku kecewa karena kau tak lagi membalasku. Atau sekedar me-like wall post-ku itu.
            Gelisah. Sumpah aku gelisah. Selain berturut-turut menulis di wall-mu, aku juga berturut-turut mengirimimu inbox. Entah berapa jumlahnya. Aku tidak menghitungnya. Karena aku tidak peduli pada apapun lagi. Yang kupedulikan itu hanya ada namamu di notification-ku. Meskipun kau hanya me-like wall post-ku atau me-like statusku. Yang penting setelah sekian lama ini, kau kembali muncul di notification-ku atau inbox-ku.
            Aku tak pernah lelah menunggumu. Tidak pernah sama sekali. Setiap hari kubuka Facebook-ku dan kutengok wall-mu. Entahlah, apakah hal seperti ini bisa disebut stalking? Aku tidak peduli. Hatiku terlajur direbut oleh profile itu. Olehmu.
            Kalau kuhitung, kau sudah menghilang dari Facebook sekitar 1 bulan. Sebuah rentan waktu yang sangat lama bagiku. Sangat sangat lama. Apalagi, kau adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Ya, orang pertama. Kau bisa menyebut bahwa kau adalah cinta pertamaku.
            Dulu, aku pernah mengira bahwa aku jatuh cinta pada kakak kelasku. Saat itu aku masih duduk di Grade 7 dan dia di Grade 8. Tapi aku sadar bahwa itu bukan cinta. Melainkan hanya kagum semata. Mengingat betapa pintar dan kerennya dia. Tapi aku benar-benar hanya kagum.
            Kaulah yang pertama. Kaulah cinta  pertamaku. Aku bahagia mengakui bahwa kaulah cinta pertamaku. Kau keren, care to each other, baik dan ramah. Tahukah kau bahwa katanya cinta pertama itu akan terkenang sampai nanti? Karena cinta pertam itulah yang memulai perjalanan cintamu. Aku bangga jatuh cinta kepada seseorang sepertimu.
            Kau tidak tahu betapa syoknya aku ketika melihatmu meng-upload foto. Tapi tidak ada balasan untukku. Aku nyaris tidak bisa bernafas. Dulu, kau selalu care padaku. Tapi kenapa jadi begini? Kutepis semua pikiran negative yang menghantui otakku.
            Aku menitikkan setitik air mata. Menggenangi mata dengan iris biruku. Aku sakit, di hatiku. Rasanya seperti dicabik-cabik. Melihatmu online tapi hanya meng-upload foto tidak penting dan mengabaikanku. Tega sekali.
            Tapi, dua menit kemudian aku mendapati ada sebuah inbox masuk. Saat mengetahui itu darimu, aku merasa bahwa aku melayang. Bahagia sekali. Kuhapus jejak air mata yang masih tersisa. Ku klik inbox itu.
            Ah, pengharapanku sia-sia. Sebenarnya tak sepenuhnya sia-sia. Setidaknya, aku jadi bisa mengetahui tentang kabarmu. Meskipun bukan darimu.
            Ya, itu bukan langsung darimu. Bukan kau yang menulisnya untukku. Aku kecewa. Tapi tak sepenuhnya kecewa saat membaca isinya. Itu dari kakak cowokmu yang memakai akunmu. Dia bilang bahwa kau sedang ujian sekaligus sangat sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk dan tidak bisa membuka Facebook sampai ujian dan tugasmu selesai atau orangtuamu akan menyita segala fasilitas untukmu selama tiga bulan. Jadi, kau memintanya untuk membalas inbox-ku dan meng-upload sedikit foto.
            Aku benar-benar nyaris terbang, melayang. Kau meminta kakakmu untuk membalas inbox-ku. Kau meminta! Berarti kau ingin aku tahu kabar terbaru darimu. Bukankan begitu? Aku yakin sekali.
            Kau memintanya untuk membalas inbox-ku. Setidaknya itu memberiku secercah harapan baru bahwa kau peduli pada perasaanku yang mudah terluka. Itu membuatku semakin memandang enteng rivalku. Dia, gadis itu. Terlebih karena aku diperlakukan istimewa. Belum lagi, saat aku bertanya pada dia, dia tidak tahu kabarmu. Membuatku merasa benar-benar dipedulikan dan diperlakukan istimewa. Dia benar-benar hanya rival biasa. Aku memang terlalu percaya diri.

 

Chapter 4
~~≈~~
            Aku benar-benar dalam penantian panjang. Menantimu untuk kembali menyapaku. Aku tahu kau peduli padaku. Aku tahu sekali. Kau memperlakukanku dengan sangat baik, terlihat dari inbox yang dikirim oleh kakakmu.
            Aku yakin kau akan jatuh cinta padaku. Sangat yakin. Bahkan lebih dari sekedar yakin biasa. Hatiku memaksa otakku untuk berfikir bahwa kau adalah belahan jiwaku. Soulmate-ku. Yang ditakdirkan untukku. Kau yang 6 tahun lebih tua daripada aku membuatmu bisa menyikapi sikapku yang terkadang penuh emosi dan berlebihan. Membuatku yakin, kau memang ‘aku’.
            Tapi otakku terus menerus menderingkan alarm bahaya. Dan tahukah kau nama siapa yang muncul di otakku saat aku berusaha mematikan alarm bahaya itu? Namanya. Nama dia, nama gadis itu.
            Hatiku memaksa otakku untuk diam. Ini cinta. Gunakan saja perasaan. Tapi entah mengapa alarm itu nyaris tidak pernah berhenti berbunyi. Aku merasa terganggu. Dia rival biasa, kan? Apa sebegitu berbahayanya gadis itu dalam kisah cintaku ini? Kenapa selalu dia yang mengganggu kehidupan cintaku?
            Aku menyikapi alarm bahaya itu dengan santai. Sama seperti sebelum alarm itu berbunyi. Dia hanya rival biasa. Bukan apa-apa. Alarm itu hanya tanda bahwa aku tak mau kau jatuh ke tangan gadis lain selain aku. Itu tanda bahwa aku benar-benar mencintaimu. Entah mengapa, aku selalu terlalu percaya diri.



Chapter 5
~~≈~~
           Aku nyaris lompat di kasurku. Astaga, ini memang sudah tengah malam. Tapi aku tidak bisa mengontrolnya. Aku terlalu senang. Sangat excited, sampai aku lupa pada segalanya. Pipiku bersemu merah, perutku seolah diisi ratusan kupu-kupu.
            Disaat-saat seperti ini, aku selalu merindukan kehadiran seseorang. Seseorang itu adalah Skye Angelline. Dia adalah kakak kandungku. Skye dan aku terpisah saat orang tua kami bercerai.  Usianya terpaut 5 tahun denganku. Saat itu aku masih 5 tahun dan Skye 10 tahun.
            Aku ikut papa sedangkan Skye ikut mama. Membuatku rindu pada sosok mama dan pada Skye. Setahuku, mama pindah ke Jepang. Mama menikah lagi dengan teman kerjanya, mengubah namanya, nama Skye dan nama keluarga.
            Papa sangat keras dalam menyikapi ini. Dia tidak pernah memberitahuku kabar Skye dan mama. Aku tahu kabar mereka setelah aku menyogok salah seorang teman Skye yang masih berhubungan dengan Skye.
            Yang membuatku merindukannya adalah, saat aku jatuh cinta seperti ini, Skye yang lebih berpengalaman pasti bisa membantuku. Aku menitikkan air mata. Dua jenis air mata. Satu air mata bahagia karena kau kembali hadir di kehidupanku dan air mata sedih karena merindukan Skye-ku.
Saphira Saphire Angelline hey! Where are you? It’s very long time we not speak, eh? *hopeless*
Takeru Yo hahah, I’m sorry!  I know how much you miss me XP
Saphira Saphire Angelline >_< of course you know! I wass told you, huh ==”
Takeru Yo hahaha~ you’re still funny. Just like when the first time we met, eh? XDD
Saphira Saphire Angelline and you too. You still a little boy! XD
Takeru Yo little boy?! How come? I’m tall and older than you, KID! XDXDD
Saphira Saphire Angelline =..=”
            Kau mengomentari  wall post-ku yang menunjukkan betapa hopeless-nya aku saat kau tidak membalas apapun dariku. Kau meminta maaf padaku. Itu membuat hatiku kembali percaya bahwa aku spesial dimatamu. Karena kau meminta maaf padaku, tapi tidak pada dia. Rivalku itu. Kau hanya mengomentari seperti biasa, tanpa kata maaf.
            Aku bangga. Aku mendapatkan perhatian lebih darimu. Aku percaya itu, meskipun hanya dengan modal bukti berupa kata maaf itu. Aku meng-klik link ke profile gadis itu, rivalku. Aku menuju ke profile gadis itu.
            Cih, dia masih mempertahankan profile picture berupa wajah artis itu. Tapi dengan angle berbeda. Kurasa itu dari photoshoot berbeda juga. Dengan tulisan di foto itu yang kurasa merupakan editan di paint. Bukan tulisan dari text, melainkan dari brush. Aku bersumpah aku bisa menulis di paint dengan brush jauh lebih baik dari pada tulisannya.
            Entahlah, semakin lama aku melihat profile ini, aku semakin membenci dia. Semakin besar pula ketakutanku bahwa kau akan jatuh ke tangan berkuku tajam gadis itu. Aku melihat namanya, yang selama ini tidak kuketahui. Sora Yokoyama. Namanya Sora.
            Setahuku, Sora artinya langit. Benar, bukan? Ah, apa peduliku dengan namanya?! Aku hanya meng-klik tombol add as friend. Friend request sent. Aku tersenyum puas.
            Aku melirik sedikit bio-nya. ‘Konnichiwa/Konbanwa Minna-san! My name is Sora. In English, Sora is Sky. Just like my old name before my mother and my father change it ;)’ tulisnya. Aku hanya menaikkan sebelah alisku bingung. Aku memang bingung, tapi aku tak peduli.
            Aku tak menyadari sesuatu yang ganjil di bio itu. Dan aku tidak cukup peduli dengan urusan-urusan rivalku. Mimpi saja! Tapi entah mengapa, aku masih merasa posisiku ada diatas gadis itu. Entahlah, mungkin terlalu percaya diri adalah sifat bawaanku dari lahir.



Chapter 6
~~≈~~
            Aku mengunjungi wall-mu. Iseng melihat-lihat statusmu yang selama ini jarang kuperhatikan. Aku menemukan komentar itu. Benar-benar mencengangkan. Itu nyaris membuat jantungku copot!
Miichi Runaruna You was in love with Sora-chan? Ohoho, just go for it, bro! I know you can! Fix her broken heart and she’ll just THINKIN ABOUT YOU! :P
Takeru Yo whatever T^T”a
Miichi Runaruna don’t lie to me, bro. I know you XD
Takeru Yo just shuddup PLEASE! (“=w=)/”(>..<!)
Miichi Runaruna =..= okay, okay...
Takeru Yo you was a good girl. Ahahahah XD
Miichi Runaruna if you say something like that AGAIN, I’ll tell SORA-CHAN about your L.O.V.E~! =P eat that bro!
Takeru Yo AK~!  Stop that! Pssst, if she look my profile, and she find something like this, I just wanna die! m(X_X)m m(X_X)m m(X_X)m m(X_X)m m(X_X)m
Miichi Runaruna =_=”
Takeru Yo what?-_-
Miichi Runaruna nothing~ just remember this moment... if you was marry Sora-chan, I can’t do anything... You know, you are handsome... I want you, =P
Takeru Yo MIIICHIIII RUNARUNAAAAAA!!!! STOP THATTTTTT!!!!! s(TAT)/
Miichi Runaruna =P you can’t stop me~! You will never stop me~! =P
Takeru Yo STOP COMMENT THIS STATUS OR NOBODY WILL LOVE YOU! XP XP
                Jadi selama ini kau... MENYIMPAN PERASAAN PADA SORA? RIVALKU ITU?! Aku tidak dapat memercayai ini jika aku belum melihat jawabannya langsung darimu. Dan itu membuatku nekat ingin mengirimimu inbox untuk mempertanyakan kebenarannya.
            Aku langsung menanyakan kebenaran berita ini padamu. ‘I heard that you’re in love with Sora. It’s true?’ tulisku. Aku tidak mau menambahkan embel-embel ‘chan’ pada nama rivalku itu. Buang-buang waktu saja.
            Dengan cepat kau membalas. ‘It’s just a crush anyway XD’ katanya. ‘Oh....’ hanya itu jawabanku. Aku kecewa. Meskipun itu cuma crush seperti yang kau katakan, crush itu bisa berubah menjadi cinta, kan? ‘Eh? Why?’ tanyamu. Menyadari perubahan bahwa seharusnya aku ini cerwet.
            ‘Just being little bit sad cos there’s a romantic love story around me =P’ jawabku. ‘If my feeling developed, you’ll find one XD. Lolllllll XD’ jawabmu. BUKAN ITU MAKSUDKU! Maksudku bukan tentang kisah cinta romantis dengan pair kau dan si Sora atau apalah itu, tapi kisah cinta romantis tentangku dan kau! Kita! Bukan kalian! Aku tidak membalasmu.
            ‘Hey! Miichi Runaruna the bad girl and Saphire my cute little sister! Thanks for supporting my new love story~! Ya all was very very very nice and cute! Ah, sorry, Miichi Runaruna isn’t ==;; Ahahah~! Lol XD at all, I just wanna say SANKYUU~ <3’ tulismu di pesan baru. Yang kau kirim untukku dan si Miichi Runaruna.
            Dengan perasaan campur aduk, aku mematikan notebook-ku langsung dengan cara cepat. Bukan dengan urutan cara yang seharusnya. Aku baru sadar akan satu hal. Aku terlalu percaya diri. Meyesatkanku di sebuah tempat bernama pengharapan. Dan ketika pengharapan itu musnah, percaya diriku yang terlalu tinggi itu tak mau mempercayainya.
            Aku menangis. Sebuang isakan pelan tapi panjang. Aku menyembunyikan wajahku dengan bantal. Aku benar-benar sakit hati. Saat itu jam 8 malam, dimana aku mulai menangisimu. Menangisi kisahku. This was the worst love story ever. Mataku mulai pegal mengeluarkan air mata. Suara mesin mobil papa terdengar memasuki pekarangan. Jam di ruang tengah berbunyi dua belas kali. Ini sudah tengah malam. Aku mengangis empat jam. Pantas saja mataku sangat sakit dan pegal. Tapi aku tak bisa berhenti menangis. Kau adalah cinta pertamaku. Cinta pertamaku yang menorehkan luka...
            Aku tak tahu mengapa begini. Mengapa kisah cintaku tak seindah kisah-kisah yang ada di novel roman yang selama ini aku baca? Mengapa kisah cintaku tak berakhir bahagia dan malah berakhir dengan akhir yang seperti ini? Jujur, ini membuatku bingung, marah dan yang paling mendominasi adalah sedih.
            Aku benar-benar tak tahu bagaimana cara untuk menghentikan rasa sedihku ini. Cara untuk menghentikan tangisku yang makin lama makin kencang. Aku meringkuk di pojok kamarku. Bersandar di tembok. Menangis lagi. Lebih kencang dari sebelumnya.
            Ah, cinta tak selalu harus memiliki, huh? Meski begitu, kenapa harus aku? KENAPA BUKAN SI SORA ITU?! Aku masih tak bisa menerima kenyataan pahit ini. Entah sampai kapan. Aku terus menangis hingga aku tertidur...
~~Flashback End~~



Chapter 7
~~≈~~
            Bahkan mengingatnya saja sanggup membuat hatiku sakit bukan main. Aku nyaris meneteskan air mataku. Semestinya aku bahagia, kan? Ya, semestinya aku sangat-sangat bahagia. Aku baru saja mendengar berita bahagia dari papa.
            Papa akan menikah lagi dengan mama! Oh, itu adalah salah satu hal yang sangat kuinginkan di dunia ini! Suami mama meninggal karena kecelakaan. Mama sangat sedih dan depresi, tapi dia kembali ingat dengan papa. Kenangan itu membuatnya kembali mencintai papa.
            Kata papa, mereka akan segera menikah setelah Skye menikah. Oh! Betapa bahagianya kakakku sekarang. Aku sangat merindukan Skye. Ternyata, Skye menikah kemarin. Itu tandanya, mama dan papa akan kembali bersatu secepatnya!
            Kepalaku berdenyut, entah mengapa. Aku meraih notebook-ku dan membuka facebook-ku. Entah kenapa, aku jadi ingat dengannya dan ingin mengecek wall-nya.
            Jariku menari diatas keyboard notebook-ku dengan tergesa-gesa, menulis kata ‘Takeru Yo’, namanya. Ah, ini dia. Segera aku menuju profile-nya.
            Nafasku tercekat, lidahku kelu. Disana, dia, Takeru, sedang menggendong seorang wanita dalam balutan wedding dress putih. Di tangan kanan wanita itu, terdapat sebuah buket bunga mawar. Wanita itu tertawa dengan ceria, sedangkan Takeru menyunggingkan senyum cool khas-nya.
            Dibawah profile picture itu, ada tulisan yang mengaggetkanku.
Takeru Yo is Married to Skye Saraveena Angelline
            Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Itu nama kakakku! Nama Skye! Bukankah Takeru menyukai gadis sialan bernama Sora itu, ya? Rasa penasaranku  muncul. Aku mengetik url profile gadis bernama Sora itu, seingatku, url itu sudah ku-bookmark dengan nama RIVAL.
            Aku menunggu loading page dengan gelisah. Aku nyaris mati tercekik melihat nama yang muncul. Bukan SORA YOKOYAMA yang ada di sana. Melainkan SKYE SARAVEENA ANGELLINE! Aku memekik seolah telah melihat hantu.
           Profile picture itu, persis Skye-ku.  Meskipun gayanya berbeda, wajahnya tetap wajah Skye-ku. Wajah teduh, yang membuat siapapun nyaman melihatnya. Dia mengecat rambut cokelatnya menjadi merah marun. Dia memakai soft lens hijau muda dan lipstik merah tua. Dia menambahkan kaca mata belang-belang oranye-hijau-kuning. T-shirtnya bergambar ice cream. Posenya disana, ia sedang menggigit bibirnya dengan tatapan puppy eyes.
            Aku membelalakkan mata tak percaya. Benarkah ini semua? Selama ini rivalku adalah kakakku? Aku jijik pada kakak kandungku? Aku benci pada kakakku? Aku muak pada kakakku?
            Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku tahu dia kakakku, Skye yang kusayangi. Tapi sekarang, hatiku beku. Kaku. Aku benci padanya. Benar-benar benci padanya. Sampai matipun, dia tak akan kuanggap saudara lagi...
.:The End:.



Maaf karena typos bertebaran -_-" #sembahsembah
Mohon riview-nya~!