February 03, 2013

Original Fiction: DARK ~Chocolate~


Ya~
Gue kembali dengan sebuah ori fic~

Ini sebenernya fic lama, tapi karena ada yang minta gue untuk bawa (aslinya di tulis di kertas, dan langsung gue ketik pas udah selesai) dan gue lupa menyimpan kertasnya dimana....
HERE I AM~!!!

So, gue publish ini for my Karima,
Agak sedikit ditambahin, sedikit x3
Wish ya like it!!

Dark ~Chocolate~
山崎イザナミ
~oOo~
Sudah selesai. Si Wanita Tamak itu, Madam Olive. Tubuh wanita itu tidak bergerak lagi, dan dia berlumuran cairan anyir bernama darah. Sekarang, Mira harus segera bergegas, menghabisi target selanjutnya. Si cowok cengeng itu, Ryosuke..
~oOo~
            Mira menatap puas ke arah cermin. Who’s that beatiful girl, uh? Ternyata dia cocok juga menggunakan seragam sekolah. Rasanya sudah lama sekali sejak dia berhenti sekolah dan malah menjadi pembunuh bayaran. Well, dia memang masih 16, dan wajah manisnya sukses menutupi berapa banyak nyawa yang telah melayang karenanya.
            Mira melirik senapan, pisau,  dan pedang-pedang yang tergantung dengan indahnya di dinding kamarnya. 3 minggu, 21 hari, 504 jam…. Dia hanya memiliki waktu sebanyak itu untuk mengambil hati Ryosuke lalu menghabisinya.
            Mira harus melenyapkan cowok cengeng itu. Kalau tidak, cek itu tak akan menjadi miliknya. Kalau tidak, justru dia lah yang kan dilenyapkan…
~oOo~
            Mira menyentuh pelan rambut panjang sepunggung barunya. Hasil campur tangan salon tentu saja. Penyambungan rambut, dengan rambut kualitas paling baik.
            Kau ingin tahu dari mana asal rambut yang sangat cantik itu? Madam Olive. Rambut itu aslinya milik Madam Olive. Di malam ketika Mira menghabisi wanita itu, Mira juga memotong habis rambut hitam berkilau Madam Olive yang memang terkenal cantik untuk disambungkan dengan rambutnya. Mira lalu mengecat rambut itu, menjadi warna cokelat yang hangat.
            Informasi satu, Ryosuke sangat mencintai rambut panjang yang indah…
~oOo~
            Berjalan ala model di atas catwalk? Tch, itu masalah kecil bagi Mira. Dia sudah sangat terbiasa melakukannya. Salahkan bos besarnya. Mira harus tersiksa berjalan seperti model demi samarannya saat itu. Menyamar menjadi model newbie tapi sangat berbakat, untuk membunuh pemilik agency model satu itu.
            Dan saat ini, dia akan kembali melakukannya. Menyamar menjadi anak pindahan dari luar negeri dengan rambut kecoklatan dan iris hijau yang cantik (berterimakasihlah pada salon dan circle lens). Ditambah bedak dan sedikit teknik shading agar hidungnya terlihat lebih mancung.
            Mira melangkah memasuki kelas barunya.
            Kelas yang sama dengan cowok cengeng itu…
~oOo~
            “Anak-anak! Ini ada murid pindahan. Kau, nak, cepat perkenalkan dirimu! Jangan berlagak bodoh dan terus-terusan dia seperti itu!” kata seorang guru tambun galak.
            “Halo semuanya. Aku Charlotte, pindahan dari Inggris. Salam kenal, mohon bantuannya,” Mira tersenyum tipis. Dalam hati, Mira memuji dirinya sendiri, sangat puas. Logat British-nya yang kental muncul, dan membuat penyamarannya sempurna. Yeah, menjadi pembunuh bayaran itu harus serba bisa.
            “Sekarang,pilih saja sendiri tempat dudukmu,” kata guru itu, tidak berusaha untuk ramah.
            Mira berjalan kearah Ryosuke, karena kursi di sampingnya tidak ditempati.
            “Apa ada yang menempati?” Mira tersenyum manis, semanis yang bisa dia lakukan. Ryosuke terpaku sejenak, mengerjapkan matanya, lalu menggeleng.
            “Duduk saja,” Ryosuke balas tersenyum, dan Mira mengangguk.
            Kepalanya terasa seperti diteriaki, bagus kiddo, kau sudah maju satu langkah lebih dekat!
~oOo~
            Mira cukup pandai memasak, at least masakannya tidak menyebabkan orang lain keracunan. Itu berkat penyamarannya dulu, saat menjadi maid manis di sebuah rumah besar yang dimiliki oleh seorang bos super menyebalkan. Tugas Mira kala itu mudah saja, buat dia mati tanpa membunuhnya. Dan Mira memilih untuk mengubur bos besar itu hidup-hidup sampai bos itu mati karena kekurangan pasokan oksigen.
            Istirahat. Finally.
            “Ryosuke, bukan?” tanya Mira ragu-ragu, sebenarnya pura-pura ragu, sambil menahan tangan Ryosuke agar dia tidak segera beranjak. Cowok itu mengangguk sambil menatap Mira aneh.
            “Ini, ambillah. Bento untukmu. Ayahku orang Jepang, dan di keluarganya ada tradisi untuk memberikan bento pada teman sebangkumu yang baru. Terimalah,” Mira tersenyum lembut. Ryosuke ikut tersenyum, lalu langsung meraih kotak bento itu.
            “Terimakasih banyak,” bisiknya.
            Informasi kedua, Ryosuke sangat tidak tahan dengan kebaikan seorang cewek, apalagi kalau itu adalah cewek manis.
~oOo~
            “Enak,” tiba-tiba suara renyah Ryosuke terdengar.
            “Eh?” sahut Mira, sembari menoleh.
            “Bento buatanmu enak banget. Apalagi filling buat onigirinya! Tapi, tamagoyaki-nya agak sedikit terlalu manis. Tapi aku suka kok, suka banget,” katanya sambil nyengir, lalu medudukkan diri di kursinya sendiri.
            “Besok aku bikinin lagi, ya,” Mira tersenyum sangat manis, diikuti anggukan Ryosuke.
            Mira tahu apa yang akan dia lakukan. Rencana sudah tersusun rapih di otaknya.
~oOo~
            “Mira, waktumu itu banyak sekali. Tapi kenapa sampai sekarang aku tidak mendengar ada kemajuan?!” bentak suara di seberang sana.
            “Ya ya, aku akan usahakan. Aku saja baru masuk sekolah itu,” desis Mira galak. Meskipun orang itu adalah atasannya, dia tidak peduli.
            Hening di seberang sana, dan Mira memutuskan sambungan telepon sambil berdecak kesal.
            Ryosuke. Cowok itu harus segera dihabisi. Permintaan untuk menghabisinya datang dari salah seorang mantan pacarnya yang dendam, dan Mira tidak peduli pada hal itu.
Yang dia pedulikan pada tugas ini hanya satu, reputasinya yang bakal menjadi makin baik dan cek itu. Cek seksi dengan ‘0’ yang berderet panjang.
Bayaran yang terlalu berlebihan untuk tugas yang sangat, sangat mudah.
~oOo~
Mira memandangi racu-racun yang terjejer di atas meja riasnya. Semuanya tidak terlihat seperti racun. Ada yang dimasukkan kedalam botol-botol parfum cantik yang terlihat mahal, ada juga yang dimasukkan kedalam botol lotion.
Mira meraih botol parfum kecil berwarna keunguan. Ini khusus untuk kasus Ryosuke. Hanya botol parfum berisi obat tidur biasa, bukan racun aneh-aneh. Kalau nanti sudah waktunya, Mira akan meracuni anak itu…
Ryosuke, tunggu giliranmu…
~oOo~
“Naa, ini untukmu…~” seru Mira semangat sambil menyerahkan sekotak bento pada Ryosuke.
“Yaay! Makasih banget ya! Hari ini apa?” kaya Ryosuke sambil nyengir.
“Ada onigiri dengan filling spicy chicken dan spicy salmon, lalu tempura dan salad. Masih ada yang lain, tapi rahasia dong~ Nanti enggak penasaran lagi~!” Mira mengedipkan sebelah matanya.
Ryosuke tersenyum, dan Mira ikutan tersenyum. Dan setelah itu, mereka berdua berjalan dalam diam menuju kelas.
~oOo~
Mira mencoret-coret kalendernya. Basa-basi ini sudah menghabiskan waktu 10 hari. 10 hari untuk mendekati Ryosuke, 10 hari untuk membuatnya jatuh cinta pada Mira. Dan Mira tahu, dia berhasil. Sepenuhnya berhasil.
Mira tahu sebentar lagi Ryosuke pasti akan menyatakan cinta. Akan Mira terima, lalu esoknya Ryosuke akan dibunuhnya. Mira sudah mengusai cara macam ini, jadi dia sepenuhnya yakin kalau dia akan berhasil…
~oOo~
Jatuh cinta, huh?
Mira sama sekali tidak mengerti, dan tidak mau peduli, pada hal-hal konyol macam itu. Mira sering sekali mengatakan hal seperti itu dalam hidupnya, sampai rasanya dia ingin tertawa.
Meski begitu, Mira sama sekali tidak mengerti cinta itu perasaan macam apa. Dia hanya mengatakan ‘aku cinta padamu’ demi pekerjaannya. Demi mendapatkan reputasi baik dengan bonus cek-cek super seksi.
“Mira…?” panggil seseorang, membuyarkan lamunan Mira soal cinta-cintaan yang dirasanya tidak ada penting-pentingnya itu. Siapa lagi yang memanggilnya kalau bukan Ryosuke?
“Hm? Ya? Ada apa?” tanya Mira.
“Besok ada acara tidak?” tanya Ryosuke. Sedikit semburat merah muda menghiasi pipi porcelainnya.
“Eng……. Aku rasa tidak,” jawab Mira bergetar, pura-pura gugup. Sekarang, yang bisa Mira lakukan adalah berharap semoga pipinya menampilkan warna kemerahan, supaya lebih mendukung.
“Aku ingin ngomong sesuatu…. Sepulang sekolah di atap jam 4, bisa…?” tanya Ryosuke ragu. Mira tersenyum lalu mengangguk.
“Aku pasti datang,” sahut Mira. Ryosuke mengangguk singkat sambil tersenyum senang. Dia lalu melambaikan tangan dan berlalu.
~oOo~
Entah mengapa hati Mira berkata agar Mira terlihat lebih manis hari ini, untuk sekali ini saja. Mira sendiri tidak mengerti ada apa, tapi rasanya ia setuju. Sepertinya Ryosuke akan menyatakan cinta, jadi lebih baik Mira terlihat manis. Begitu, kan?
Hair pin. Mira butuh hair pin manis berbentuk pita atau whateverthehell. Pokoknya dia butuh hair pin yang kelihatan manis.
Ketemu!
Sebuah hair pin goth loli berbentuk pita yang terlihat sangat cute.
Sedikit sapuan make up, sedikit saja. Dan semuanya akan terlihat sempurna. Sangat sempurna.
~oOo~
Hari tidak pernah terasa sepanjang ini. Sumpah, seumur hidupnya, Mira tidak pernah merasa jam bergerak selambat ini. Mira terus-terusan mengecek jam tangannya nyaris lima menit sekali. Dia seperti tidak sabar, menunggu pertemuan rahasianya dengan Ryosuke di atap jam 4 sore nanti.
Mira sendiri, dia merasa sangat sangat out of character. Seorang Mira itu harusnya cool, bukannya uring-uringan terus begini. The hell, otaknya menyuruh dirinya untuk menghentikan tingkahnya yang konyol, yang seperti orang jatuh cinta yang tidak sabaran menunggu waktu pulang agar bisa segera pergi kencan.
Wait! Jatuh cinta? Kuulangi lagi, jatuh cinta? Tidak, tidak. Itu terlalu gila. Seorang Mira? Jatuh cinta? Kau bercanda?
Mira menggeram kesal dan membuang jauh-jauh pikiran sialan itu.
~oOo~
Akhirnya. Waktunya pulang! Jam empat kurang lima belas.
Bagus sekali. Yang Mira perlu lakukan sekarang hanya berlali sekencang-kencangnya ke atap. Mengingat kelasnya di lantai satu dan atap di lantai lima.
Dan Mira, dia mulai berlari seperti orang kesetanan.
~oOo~
Mira hanya berdiri diam sambil memandangi langit sore yang terlihat sangat cantik, dia benar-benar hanya berdiri diam.
Mira menghela nafasnya, Ryosuke terlambat datang. Dia terlambat satu jam, dan Mira mulai ragu. Apakah Ryosuke akan datang….?
Langit mulai berubah menjadi oranye….
Suara pintu terbuka, membuat Mira langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan dia mendapati ada Ryosuke di sana, berjalan ke arahnya.
Mira kembali menatap langit, yang entah sejak kapan terlihat sangat sempurna.
Dekapan itu datang dengan sangat tiba-tiba. Ryosuke memeluk Mira dari belakang dengan erat. Benar-benar erat, seolah Mira adalah miliknya.
“Aku sayang padamu. Sangat sayang padamu,” bisik Ryosuke pelan tepat di telinga Mira.
“Aku juga. Aku juga sayang sekali padamu…” bisik Mira tidak kalah pelan, bahkan jauh lebih pelan.
Hening, benar-benar hening. Hanya semilir angin yang datang mengganggu.
Mira tidak benar-benar ingat bagaiman awalnya, tetapi ketika dia tersadar, bibir Ryosuke sedang mengecup lembut bibirnya.
Mira merasakan kalau degup jantungnya sangat kencang, dia sampai merasa ngeri sendiri, takut Ryosuke juga bisa mendengarnya. Dan Mira baru menyadari perasaan itu, bahwa dia telah jatuh cinta pada Ryosuke. For real.
Dia telah jatuh cinta, pada targetnya yang harus dia lenyapkan secepanya. Dan tentu saja, Mira tahu ini bukan hal yang bagus.
~oOo~
Mira sadar sekali kalau posisinya benar-benar tidak untung.
Mira tidak tahu mana yang harus dia turuti. Rasa cintanya pada Ryosuke, atau tugasnya yang sudah ada jauh sebelum perasaan sialan ini muncul.
Mira memejamkan matanya lalu mendesis pelan.
Tugas, dia memilih tugasnya. Peduli setan dengan perasaan ini!
Mira mendecih, mengambil salah satu pisau kesukaannya lalu memasukkan pisau itu ke dalam case khusus. Karena besok, akan ada satu nyawa yang melayang….
~oOo~
Mira mencampurkan isi botol ‘parfur ungu’nya pada tamagoyaki yang ia buat untuk Ryosuke hari ini. Mira juga membawa botol ‘parfum hijau’ yang berisi racun mematikan. Dia akan mengolesi racun itu pada pisaunya, agar tak lama setelah ditusukkan, sang korban akan langsung mati.
Mira menuliskan sesuatu di secarik kertas putih lalu memasukkan kertas itu ke dalam amplom setelah melipatnya. Entah apa isinya…
~oOo~
Senang….
Jauh di dalam lubuk hatinya, Mira begitu suka melihat Ryosuke memakan masakannya. Apalagi, jika Ryosuke menyukai hasil dapurnya itu. Rasanya…. Senang…
Ryosuke sedang memakan bento buatan Mira, dan dia terlihat menikmatinya. Sumpah, Mira merasa senang sekali.
Tamagoyaki! Ryosuke sedang mengunya tamagoyaki itu!
Telan! Telan Ryosuke, telan!
Lima…
Empat…
Tiga..
Dua..
Terdengar bunyi kotak makan yang jatuh, dan Mira langsung menggeret Ryosuke pergi jauh dari tempat itu.
~oOo~
Ryosuke terikat. Tangannya diborgol dan borgol itu disambungkan dengan sebuah tiang yang berada persis di belakangnya. Kakinya dibiarkan bebas. Meski begitu, sepertinya dia tidak berminat untuk mencoba meloloskan diri.
Kelopak mata itu terbuka, memperlihatkan iris kecokelatannya yang sangat cantik. Ryosuke menatap sekelilingnya, dan menyadari kalau suatu hal yang tidak diinginkan telah terjadi.
Derap kaki terdengar semakin jelas, dan dia melihat sesosok yang sepertinya dia kenali.
Ya, dia mengenalinya. Itu adalah perempuan yang berciuman dengannya di atap sekolah kemarin sore…
~oOo~
“Hey boy…” kata suara itu dingin, beku. Benar-benar berbeda dengan suara hangat yang biasa Ryosuke dengar, padahal pemilik suaranya sama…
“Charlotte?” kata Ryosuke pelan.
“Bukan, bukan. Nama asliku Mira, bukan Charlotte whatsoever itu. Dan aku disini untuk ini…” katanya sambil tertawa, tawa yang bergetar, sambil menunjukkan pisaunya.
Ryosuke menahan nafas, tegang.
“Sebelum itu, biarkan aku melepaskanmu. Agar permainan ini terasa lebih menyenangkan,” Mira menyeringai, sembari melepas borgol Ryosuke. Terlepas dengan mudah, tapi Ryosuke bahkan tak berinisiatif untuk bergerak meski hanya sesenti.
“Ini, ambil ini. Untukmu,” kata Mira dingin sambil melemparkan sebuah amplop ke arah Ryosuke. Itu amplop yang kemarin…
“Aku benar-benar malas berbasa-basi tidak jelas, lagipula aku juga tidak punya waktu panjang untuk main-main. Jadi, biarkanlah pisau ini melakukan tugas sucinya,” Mira tertawa, tawanya terdengar serak.
Mira mendekat ke arah Ryosuke, membuatnya semakin rapat ke dinding.
“Ingin sebuah ciuman perpisahan, ne, baby boy?” Mira terkikik pelan.
Hening.
Benar-benar tidak ada suara, hanya hembusan nafas.
Mira mengangkat pisaunya, bersiap-siap untuk menusukkannya pada Ryosuke, yang sama sekali tak ada perlawanan.
“Aku sayang padamu…. Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan, aku sayang sekali padamu,” Ryosuke berbisik pelan, nyaris tidak dapat terdengar. Ryosuke lalu menutup matanya, siap untuk dibunuh. Dia siap.
Tapi tusukan itu, tusukan itu tak kunjung datang.
“Bacalah… Isi.... Amplop itu…” suara Mira, nafasnya tidak beraturan dan suaranya sangat serak. Ryosuke membuka matanya, dan seketika dia langsung terbelalak.
Wajah Mira terlihat cantik, dengan senyuman manis. Pisau itu, pisau itu bersarang di perutnya sendiri.
Mira terjatuh ke dekapan Ryosuke, dan Ryosuke menangkapnya. Dia memeluk tubuh Mira yang masih terasa hangat. Dia tidak melepaskan pelukan itu, entah untuk berapa lama.
Tubuh Mira mulai kehilangan kehangatannya…
~oOo~
Dear Ryosuke-kun…

Hai, ini aku Charlotte, atau mungkin kau baru mengetahui nama asliku. Ya, nama asliku memang Mira.

Ryosuke-kun, aku tidak mau terlalu bertele-tele. Cukup intinya saja, right? Dari pada benda ini malah membuang-buang waktumu…

Ryosuke-kun, tentang perasaanku yang kukatakan padamu saat di atap waktu itu, itu nyata. Aku sangat, sangat menyayangimu.

Aku seharusnya mati di tangan bos-ku karena misiku untuk membunuhmu gagal kulakukan. Tapi aku tak mau dibunuhnya. Aku ingin mati di pelukanmu.

Ah, kalau kepalamu mulai dipenuhi dengan skenario dramatis seperti lari ke desa, tinggal di sana dan hidup bahagia selamanya, itu percuma. Bos-ku terlalu luar biasa, melihatnya saja sudah membuatmu merasa lebih baik mati saja.

Mulai sekarang, kau harus berhati-hati. Bos-ku pasti tetap akan berusaha membunuhmu. Dengan bawahannya yang sangat banyak itu, aku yakin dia akan terus berusaha mengejarmu sampai kau mati.

Di sini aku menyertakan kunci apartemenku. Aku punya banyak pedang, pisau, dan senapan beserta stock pelurunya. Bawa semuanya ke rumahmu, sembunyikan saja, dan selalu bawa satu, minimal pisau lipat di dalam dompetmu. Untuk melindungi dirimu sendiri.
Bawa saja juga koleksi racunku, semuanya ada di meja rias. Tapi ingat, jangan sampai kau malah menggunakannya untuk bunuh diri..!

Dan satu permintaanku….
Tolong ingat aku…!
Karena aku, aku akan selalu mengingatmu…

Totally yours forever,
Mira

~oOo~
.:The End:.

Don't forget to review ;)



0 Comments!:

Post a Comment

Gimme some cookies?