April 08, 2012

Second Sequel: Poison Goes Down

The second sequel of ‘Tears of the First Love ~Story~’
Setelah nulis tentang pertemuan Hideo dan Saphire di sequel kemarin (Sparkling Red Juice), jadi ingin nulis tentang mereka lagi XD

Sebuah sequel yang kupersembahkan pada ALIFAH AMALIA ARIF, untuk hadiah ulang tahunnya :)

Teman saya yang sesuatu, L, masih menjadi Hideo. Hahaha, Hideo milikmu, L! Yeah, mungkin nomor dua setelah biru~ OwO

Okay, let me start another story of Hideo and Saphire :D
Warning: There's a “SUICIDE SCENE” inside..
POISON GOES DOWN
***
                “Lama gak bertemu,” Hideo menampilkan senyuman. Senyuman hangat.
                “Haha, iya. Lama banget, ya,” aku memandang matanya.
                “Gimana pistol yang waktu itu? Berguna?” Hideo tersenyum lagi, senyum cool.
                “Sangat berguna,” aku menyuap sepotong cheesecake,
                “Ah, pasti kakakmu dan suaminya, ya?” aku membelalak mendengar pertanyaan Hideo.
                “Heh? Bagaimana kamu bisa tahu kugunakan untuk apa pemberianmu itu?” tanyaku kaget.
                “Aku punya banyak mata,” katanya enteng. Aku tersenyum kecil.
                “Aku suka pemberianmu. Terima kasih banget, ya,” bisikku.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke rumahku. Aku punya banyak yang seperti itu.” Hideo meminum kopi-nya.
                “Oh ya? Boleh. Sepertinya menyanangkan,” aku nyengir, membayangkan apa saja isi rumahnya.
                “Ini alamatku, datang saja,” dia memberikanku secarik kertas.
                “Terima kasih. Aku akan datang besok siang. Mungkin sekitar jam 1,” kataku. Dia mengangguk.
                “Datang saja,” dia tersenyum. Entah sejak kapan senyumannya menjadi lebih manis dibanding senyum Takeru...
                “Yang kemarin kamu berikan, itu apa?” tanyaku.
                “Yang kemarin? Oh, itu Glock 19,” katanya ringan.
                “Dari mana kamu mendapatkannya? Dan, ada berapa di rumahmu benda seperti itu?” aku bertanya, menyelidik.
                “Itu bukan masalah aku mendapatkannya dari mana,” Hideo nyengir. “Dan untuk sedikit informasi, di rumah aku mempunyai lima. Enam dengan yang kuberika padamu,” dia tertawa lepas. Ah, entah mengapa tawanya sangat merdu...
***
                Aku mengetuk pintu sebuah rumah minimalis yang diwarnai dengan cat hitam dan merah. Belum ada yang membukakan, aku mengetuknya lagi. FYI, aku sedang ada di depan pintu rumah Hideo.
                Pintu dibuka, Hideo yang membukanya. Dia memakai t-shirt biru muda dan jeans, rambutnya basah dan ada handuk tergantung di bahunya. Air masih menetes sedikit-sedikit dari rambutnya. Sepertinya dia baru selesai mandi.
                “Manusia mana yang baru mandi jam satu siang lebih lima belas menit?” sindirku.
                “Kamu tanya manusia mana? Nih, ada satu di depanmu,” dia nyengir lebar. Aku mencubit pipinya, gemas.
                “Ck, sakit! Lebih baik langsung tur, saja,” Hideo menarik tanganku, masuk ke dalam rumahnya.
                Interior rumahnya di cat biru. Beberapa barang seperti sofa dan karpet juga berwarna biru. Di pojokan ruang, ada sebuah gitar  elektrik yang dipajang. Warnanya? Biru-putih.
                “Kamu suka biru, ya?” gumamku.
                Dia tidak menjawab, tapi dia membawaku ke lantai atas. Saat sudah sampai di lantai atas, dia menarikku menuju sebuah kamar. Dia membuka kamar itu.
                “Ini adalah.... Galeri seni-ku,” dia tersenyum misterius.
                Hideo menarikku ke dalam. Dia melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sebuah lemari.
                Aku melihat-lihat isi ruangan itu. Wow, segala macam senjata api tergantung di dinding. Tidak hanya satu setiap jenis. Satu jenis bisa sampai ada tiga, atau malahan lebih.
                Hideo kembali, membawa sebuah peti besar berwarna hitam. Saat sampai di sebelahku, dia membukanya.
                “Akan kutunjukkan beberapa,” dia nyengir.
                “Ini Glock 19, persis kan dengan yang kuberikan padamu? Yang ini Barreta 92, nah ini Walther P99. Yang satu ini AK47, kalau yang ini MK-16. Ini SS-1, ini H&K G-3,” Hideo terus menjelaskan berbagai macam kepadaku. Aku mencermati setiap perkataanya. Aku ingin tahu apa yang dia suka.
                “Wow, kamu sangat menyukainya, ya?” kataku, setelah dia menyelesaikan ceramah panjangnya tentang segala macam senjata api.
                “Tentu, aku mengoleksi benda-benda ini. Dan mengedarkannya secara gelap,” dia nyengir polos.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke lemari penyimpanan pribadiku,” kataku dengan nada sombong.
                “Memang ada apa?” tanyanya penasaran.
                “Minuman keras. Kamu tahu? Aku punya wine berusia beberapa ratus tahun. Aku berani taruhan rasaya akan sangat enak,” aku tersenyum puas.
                “Nah, hobi kita sama-sama keren. Ayo pacaran saja!” Hideo tertawa renyah, suaranya menghangatkan hatiku. Aku merasa suara tawanya sudah seperti musik pengantar tidur yang sangat indah.
                “Tergantung seberapa suka kamu denganku!” aku tertawa juga. Rasanya sangat menyenangkan berada di sampingnya... Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Pada Hideo?
***
                “Hahaha! Mana ada!” aku tertawa lepas. Hideo yang ada di sampingku juga tertawa.
                “Ada! Aku!” kami tertawa kencang lagi.
                Aku dan Hideo sedang berada di taman. Dia mengajakku. Kupikir ini seperti kencan. Dan, dari tadi banyak gadis-gadis yang menatapku iri karena kencan dengan cowok keren seperti Hideo. Bagus sekali, aku merasa bangga. Hahaha.
                “Err, Saphire? Kurasa ada yang ingin aku bicarakan,” untuk sesaat Hideo terlihat ragu-ragu. Oh, jangan katakan ini perpisahan! Aku sudah jatuh cinta padanya! Jangan sampai ini menjadi pertemuan terakhir kami!
                “Yeah, katakan saja...” aku menatap langit. Tuhan, jangan bilang ini perpisahan. Tolong...
                “Saphire, je t’aime...” bisiknya ditelingaku.
                Je t’aime? Bahasa Perancis? Untuk I love you?
                “Jangan bercanda, Hideo,” kataku.  Terlalu indah untuk memercayainya bahwa yang dia katakan kenyataan. Cowok yak kusukai juga menyukaiku? Wow! Bisa saja bohong, kan?
                “Tatap aku,” katanya, dengan suara yang kalem.
                Aku menoleh padanya. Dia meraih daguku lembut dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Aku memejamkan mataku, berodoa kalau ini bukan mimpi.
                Bibirnya terlepas dari bibirku, aku membuka mataku dengan perlahan. Aku merasakan kalau wajahku memanas. Aku menatap matanya, yang baru kusadari berwarna biru seperti laut. Entah kenapa aku baru sadar warna matanya seindah itu. Kemana saja aku selama ini, tidak memperhatikan matanya yang sangat jernih itu?
                “Aku tidak akan mencium gadis yang tidak benar-benar kusukai,” katanya lembut, balas menatap mataku.
                Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Lalu menciumnya. Heh, boleh kan, cewek yang mulai duluan?
                Dia memperdalamnya ciuman kami. Bibirnya melumat bibir bawahku, dan aku membalasnya dengan melumat bibir atasnya. Oh God, it does feels like heaven. Aku membuka mulutku, meberinya akses masuk. Membuat kami terus berciuman, entah sampai berapa kali.
                Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. “Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu...” bisikku. Dia mengecup singkat puncak kepalaku.
                “Aku tak akan melepaskanmu,” bisiknya. Kami berdua tersenyum.
***
                “Saphire, katakan pada Mama dengan jujur!” Mama menggertakan giginya.
                “Iya, aku pacaran dengannya! Memang kenapa?” tantangku.
                “Saphire, jaga cara bicaramu,” Papa memperingatkan.
                “Saphire! Jangan bercanda!” mata Mama membulat.
                “Aku memang tidak bercanda,” kataku dengan nada tidak peduli.
                “Jangan gila, Saphire! Dia pengedar senjata api!” teriak Mama, sepertinya frustasi.
                “Lalu? Memangnya ada masalah dengan itu?” tanyaku.
                “Dia mengedarkannya, Saphire! Dia pengedar! Dia memiliki potensi membahayakan Negara, tahu tidak?! Kalau dia menyebar luaskan senjata itu, teroris bisa saja membelinya dan menembak orang-orang! Dan, bagaimana kalau kamulah yang tertembak?!” Mama berteriak lagi.
                “Mama, sekarang aku mengerti semua maksudmu. Kau tidak mau aku tertembak karena tak mau mengurusi pemakamanku, kan?” aku masih dengan nada tidak peduli.
                “Saphire! Jaga ucapanmu!” Papa memperingatkan sekali lagi, dengan nada yang lebih keras.
                “Kalian tak perlu bayar biaya pemakamanku. Rekeningku masih cukup banyak isinya untuk biaya pemakaman beberapa orang. Kalau kalian tidak mau mengeluarkan uang kalian yang sangat berharga untuk bayar biaya pemakaman anak yang tidak berguna ini, pakai uang dari rekeningku saja,” ujarku.
                “Saphire!” jerit Mama kaget.
                “Ya Tuhan, Saphire! Apa sih yang merasukimu?” Papa juga tampak kaget.
                Aku pergi dari ruangan tanpa ba-bi-bu. Aku bisa mendengar tangisan Mama, yang menurutku terdengar agak berlebihan. Aku tahu dari dulu, kok, kalau mereka lebih sayang pada Skye daripada aku. Urusan itu sih terlihat dengan sangat jelas, ya.
                Jadi, kurasa, kalau aku mati, hidup mereka malah lebih tenang, kan?
***
                “Hubungan kita tidak disetujui Papa dan Mamaku...” bisikku pelan. Kami sedang di taman kota, kencan.
                “Aku sudah tahu,” katanya.
                “Tapi sampai kapanpun, aku akan terus bersamamu,” ucapku, tersenyum lembut.
                “Aku akan mati bersamamu,” kata Hideo pelan.
                “Tunggu disini sebentar,” kataku, Hideo mengangguk.
                Aku melangkah ke sebatang pohon besar dengan daun yang rimbun. Pohon ini adalah pohon yang paling besar di taman ini. Aku mengeluarkan pisau lipatku. Mengukir kata-kata di batang pohon itu.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...
            Aku mengantungi lagi pisau lipatku. Aku menatap puas hasil karyaku yang sekarang terukir batang pohon.
            Aku berlari. Kembali ke Hideo.
            “Apa yang tadi kamu lakukan?” tanyanya, menyelidik.
            “Tidak ada,” jawabku riang. Dia tak perlu tahu...
***
                “Saphire, tadi Mama mendapat laporan dari salah seorang tetangga kalau kau ada di taman kota bersama laki-laki itu,” kata Mama galak.
                “Ya, tetangga yang baik. Informasi yang dia berikan akurat. Sore ini aku memang kencan dengan Hideo,” kataku.
                “Saphire! Mama sudah memperingatkanmu!” gertak Mama.
                “Dan aku terlalu mencintainya,” jawabku.
                “Kau bukan Saphire-ku! Kau bukan Saphire anakku! Saphire tidak begini! Saphire seorang anak yang sangat manis dan penurut!” teriak Mama.
                “Mungkin. Tapi lihat saja besok,” desisku, lalu pergi meninggalkan Mama yang masih mengomel.
***
            Aku ada di ruang bawah tanah rumah Hideo. Aku tidak tahu rumahnya punya ruang bawah tanah senyaman ini. Semuanya sudah diatur Hideo agar menjadi tempat persembunyian yang aman dan nyaman. Didekor olehnya dengan benda-benda berwarna biru.
                “Saphire, kamu yakin?” tanya Hideo kalem.
                “Aku sangat yakin, Hideo,” bisikku.
                “Aku tahu ibumu membenciku. Tapi, apakah menurutmu semuanya harus berakhir begini?” tanyanya halus. Suaranya halus, lembut. Seperti kain sutra...
                “Aku pribadi, sih, yakin. Ini keputusan finalku. Sisanya, itu ada pada tanganmu,” aku menatapnya sayu.
                “Seperti yang kukatakan padamu di taman waktu itu. Aku akan mati bersamamu,” jawabnya kalem.
                Kami berbaring di karpet biru Hideo, masih di ruang bawah tanahnya. Tangan kiriku bergandengan dengan tangan kanannya, dan tangan kananku membawa sebuah suntikan. Suntikan berisi racun, yang berbahaya bagi manusia.
                “1, 2, 3...” kami menghitung bersama.
                Saat hitungan kesepuluh, aku dan Hideo secara bersamaan munyuntikan racun itu ke tubuh kami masing-masing. Aku memejamkan mata.
                Ruang bawah tanah ini hanya bisa dibuka dengan menggunakan kata kunci dan dilengkapi pengamanan super canggih. Dan hanya Hideo yang mengetahui kata kuncinya. Mungkin, jika suatu saat kami ditemukan, kami sudah tinggal tulang belulang berselimut debu...
***
NORMAL POV
                Di taman kota, di batang sebuah pohon yang paling besar di sana, terdapat dua ukiran tulisan. Satu ditulis oleh seorang perempuan, dan satu lagi adalah balasannya, dari kekasihnya. Yang entah kapan diukir di batang pohon tersebut.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...

Saat bersamamu, aku merasa berbeda. Aku bisa melakukan yang sebelumnya kurasa tak dapat kulakukan... Hanya saat bersamamulah, aku bisa menjadi aku...

Dariku, Hideo Xavier Stephenson. Untuk gadisku, Saphire... Kita memang ditakdirkan 
untuk selalu bersama...

~*The End*~

Merasa kurang puas dengan sequel kemarin, semakin membangkitkan semangat untuk nulis ini XD
Ide awal, Hideo dan Saphire bunuh diri setelah kawin lari gak jadi di pakai. Kesannya lebay, banget XDDD
Thanks for read :)                                       
Aku menyelesaikannya dalam sehari, sampai jam 12:08 AM XDD

April 05, 2012

Sparkling Red Juice


Sequel dari TEARS OF THE FIRST LOVE ~STORY~
Atas permintaan Alifah Igor Tarigan Queen Alifah The Third :D
My friend, L, as Hideo :D 


Tears of the First Love ~Story~ Sequel:
SPARKLING RED JUICE

Author: Za-ra
Rate: M for bloody scene
Genre: Angst/Crime
Warning: Bloody scene all over the story, gaje, abal, aneh, better to read the first story: Tears of the First Love ~Story~

Aku tidak peduli lagi tentang apapun. Meskipun jalan yang kuambil merupakan pilihan terakhir yang membuatku lebih kotor, lebih berdosa dari pada makhluk hidup lain yang hidup di bumi. Persetan dengan semuanya, aku benci dia...


Chapter 1 : Meet
                “Saphire!” lengking seseorang, memanggil namaku. Lamunanku buyar. Ah, dia.
                Aku sedang di bandara, menjemput kepulangan Mama dan Skye, bersama Papa. Dan tebak apa, dia ada di hadapanku sekarang. Dan tahu tidak, dia menggandeng cowok itu. Ya, cowok itu...
               Takeru Yo, suaminya, sekaligus cowok yang kutaksir, sampai sekarang. Aku kenal cowok itu, Takeru Yo, di Facebook, dan dengan menyebalkan, Skye menikahinya. Cih, dasar kakak sialan si Skye itu!
                Aku dendam padanya. Bisa-bisanya dia dan aku naksir cowok yang sama (walau dia gak tahu aku naksir suaminya sampai sekarang. Kita tinggal terpisah dan tidak pernah sama sekali berkomunikasi), dan kemudian dia menikahi cowok itu. Shit, apa-apaan itu?!
                Dan sekarang, Skye dan suaminya itu ada di depanku, dengan wajah bahagia. Damn, benar-benar menyebalkan.
                Seseorang memelukku dengan erat. Pasti Skye. Bau parfumnya tercium jelas di hidungku. Baunya manis, sangat manis, aku curiga komposisi parfum itu termasuk esens es krim dan satu batang lolipop. Sangat bukan tipe parfum kesukaanku. Aku suka yang menyengat, tapi tidak manis.
                Skye melepaskan pelukannya, berdiri di hadapanku dengan wajah berseri-seri. Rambut merahnya berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, menimbulkan efek dramatis. Dia memakai tanktop pink, jaket abu-abunya dia ikat di pinggang. Dia melengkapinya dengan hotpants jeans-nya, juga wedges pink dan kacamata ber-frame merah. Dia melapisi wajahnya dengan bedak tipis, memakai maskara dan memoles bibirnya dengan lipstick baby pink.
                Takeru, kakak iparku yang sangat kucintai setengah mati (sebagai laki-laki, bukan kakak), dia memakai t-shirt putih dengan potongan leher v-neck dan celana jeans. Dia menggunakan sneakers hitam. Simple. Seksi.
                Engh, ternyata Takeru (yang merupakan laki-laki yang kucintai sampai sekarang. Persetan dengan pernikahannya dengan Skye) aslinya lebih seksi daripada fotonya. Kulitnya putih bagai mutiara, bersinar di bawah matahari bagaikan kristal. Wajahnya tegas, terlihat dingin, tapi imut pada saat yang bersamaan.
                “Apa kabarmu?” tanya Skye dengan semangat menggebu-gebu. Sepertinya dia mau meledak. Aku hanya menatapnya dingin.
                “Eh? Ini suamiku, Tekeru!” Skye mungkin menyadari aku berubah sikap, jadi dia langsung mengubah arah pembicaraan.
                “Takeru Yo, desu!” kata Takeru. Oh astaga, suaranya seksi sekali.
                “Saphire Rose Angelline, desu. Yoroshiku onegaishimasu!” jawabku. Gini-gini aku juga bisa Bahasa Jepang sedikit-sedikit!
                “Saphire? Angelline? Tunggu sepertinya kenal...” Takeru terlihat berfikir. Ayo, ingat aku. Ingat aku...
                “Saphira Saphire Angelline, eh?” akhirnya dia mengingatnya! Aku mengangguk.
                “Benar,” aku tersenyum sedikit.
                Takeru memelukku. Dia mengangkatku ke udara seperti anak kecil. “Saphire my lil’ sister!” teriaknya. Aku tertawa renyah. Meskipun dia menganggapku sebagai adiknya, terserah. Yang penting dia memelukku. It does feels like heaven... Yeah, karena aku memang cinta padanya.
                “Ho? Kalian sudah kenal, ya?” tanya Skye, melongo. Cih, tambah jelek saja! Aku tidak mengerti Takeru kelilipan pasir dari negara mana sampai mau menikah dengan Skye. Bagusan juga aku kemana-mana!
                Takeru menurunkanku dan melepas pelukannya. “Ya, kami kenal di Facebook. Adikmu ini lucu, sekali lho, love.” Takeru tersenyum menggoda. Bukan untukku, untuk Skye. Cih.
                “Kau lupa dia adik siapa. Dia adikku, dear~” balas Skye. Cih, aku muak! Aku sebal! Benci! Benci! Benci!
                Papa menyela, sambil menggandeng mama, “ayo pulang. Kalian pasti capek, kan?” kata Papa. Membuat kami semua diam dan mengikutinya ke parkiran.
***
                Sampai di rumah, aku lansung masuk ke kamarku, tidak lupa untuk membanting pintunya. Aku lansung membaringkan diriku di kasur. Tapi belum lima menit aku beristirahat, ada ketukan di pintu. Aku membukanya. Ugh, Skye!
                “Boleh aku pakai kamar mandimu, Saphire? Kamar mandi di kamarku di pakai Takeru...” kata Skye.
                Rasanya aku ingin menyahut ‘mandi saja sana sama Takeru-mu! Dia kan suamimu!’ tapi tak jadi. Nanti dia benar-benar memakai saranku. Otaknya kan gak pernah betul dari dulu.
                “Silahkan pakai,” aku memutuskan memberikannya tumpangan untuk mandi di kamar mandiku.
                “Terimakasih!” serunya girang, sebelum melesat ke kamar mandi.
                Aku menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tak lama, aku mendengar pintu kamar mandi dibuka.
                “Terimakasih, ya, Saphire! Um, untuk sementara sabun dan shampoo-ku kutitip di kamar mandimu, boleh?” tanyanya. Aku mengiyakan saja supaya cepat.
                Aku masuk ke kamar mandiku, bau sabun Skye tercium. Oh, astaga! Aku melangkah masuk, menuju kearah rak yang berisi sabun dan shampoo. Aku meraih sabun yang asing, sabun milik Skye.
                Aku membaca tulisan di botol sabun cair milik Skye. Ugh, pantas saja! Dia memakai es krim rasa vanilla untuk mandi! Aku juga meraih shampoo-nya. Gah, dia juga memakai es krim vanilla yang sama untuk keramas, rupanya!
                Sabar, Saphire, sabar. Hidupmu belum berakhir sekarang. Kau masih terlalu muda untuk bunuh diri...
Chapter 2 : Vacation
      “Hah? Aku?” mataku terbelalak.
                “Iya! Kami ingin mengajakmu juga. Aku sangat merindukanmu, tau, Saphire! Maka itu, kami ingin mengajakmu liburan sama-sama!” Skye nyengir, Takeru tersenyum.
                “Oke, aku ikut,” aku memaksakan tersenyum, dan dalam hati aku melanjutkan perkataanku, ‘demi Takeru’.
                “Kita berangkat siang ini,” Takeru tersenyum manis.
                “Ayo siap-siap!” seru Skye girang. Huh, cerewet!
***
                Aku lupa apa yang terjadi selama perjalanan. Tiba-tiba saja, aku sudah terbaring di kasur penginapan. Halah, peduli amatlah!
                Aku sendirian di kamar ini. Berarti Skye dan Takeru ada di kamar sebelah. Aku keluar dari kamar, tentunya setelah membereskan penampilanku.
                “Hei!” aku mendengar seseorang menyapaku. Aku menengok. Eh? Orang asing?
                “Siapa namamu? Aku anak pemilik penginapan. Hideo Stephenson!” aku pasang wajah bingung. Namanya belasteran banget! Dan satu lagi, marga-nya sama dengan marga sahabatku yang bernama Amber Stephenson. Dunia akan terasa sangat kecil kalau mereka ternyata sepupu.
                “Saphire Rose Angelline,” aku tersenyum sedikit.
                “Di basement penginapan ini ada bar-nya, lho. Mau kesana?” Hideo tersenyum iseng.
                “Ayo!” aku menyanggupinya.
***
                “Kau mau apa? Pernah minum sebelumnya? Kalau belum, biar kupesankan soda,” tanya Hideo.
                “Aku mau cocktail. Pilihkan cocktail apapun lah, terserah. Dan ya, aku pernah minum. Wine sekali pada acara keluarga, champagne pada pernikahan teman papaku, beberapa kali cocktail juga,” aku menjawab sembari dia memesan minuman.
                “Kamu kelihatan masih kecil...” dia memasang wajah curiga.
                “Ho, terima kasih,” aku memutar bola mataku.
               “Aku tidak tega mencekoki anak kecil dengan cocktail. Kamu kubelikan soda,” Hideo menyerahkan soda padaku. Ha, dia ternyata juga cuma beli soda! Kupikir, dia justru mau minum apa, gitu. Bourbon, cognac, vodka, sherry, gin, tequila, champagne, atau apalah terserah.
                “Hey, Hideo,” kataku, memanggil namanya.
                “Hm?” balasnya, sambil menyeruput sodanya.
                “Kalau kamu naksir seseorang, benar-benar cinta mati padanya, kemudian dia menikah dengan seseorang. Apa yang kira-kira akan kamu lakukan?” tanyaku.
                “Aku? Aku mungkin akan jadi orang paling jahat sedunia. Aku akan membunuh orang itu,” kata Hideo dengan nada dingin. Aku tersedak soda.
                “Gila kamu!” kataku kaget, setelah bisa mengatur nafas.
                “Aku gak mau kehilangan orang yang kusayang. Itu saja,” jawab Hideo kalem.
                “Wow, kamu keren, Hideo!” aku tersenyum.
                “Hahaha. Nah, kurasa aku ingin memberikanmu ini,” Hideo mengeluarkan pistol dari sakunya. Aku kaget, buat apa dia bawa-bawa pistol?
                “Hi-Hideo?” aku memandangnya penuh tanda tanya.
                “Siapa tahu kamu butuh. Simpan saja.” Hideo memberikan pistolnya padaku, beserta beberapa peluru berwarna keperakan.
                Kami berdua menghabiskan soda kami dalam diam...
***
                Aku melangkah ke dapur penginapan. Mengambil sebuah pisau daging. Seperti kata Hideo sebelumnya, siapa tahu aku membutuhkannya...
***
Chapter 3 : Under The Moonlight
                “Skye, Takeru! Ayo temani aku ke hutan. Ayo kita melihat bulan!” aku berkata dengan ramah. Tanganku kumasukkan ke kantung jaketku. Jariku bisa merasakan ujung pistol disana. Terasa hangat.
                “Ayo!” seru Skye, dan dalam lima menit berikutnya, kami sudah berjalan menuju hutan.
                Aku memimpin jalan dalam diam. Terkadang aku mendengar Skye bersenandung tidak jelas.
                Kami sampai. Tepat di tengah hutan. Tempat yang sangat sepi.
                “Eh? Memang disini bisa melihat bulan?” tanya Skye polos.
                “Gelap dimana-mana,” celetuk Takeru iseng.
                Di dalam kantung jaketku, aku memasukkan satu peluru berwarna keperakan pemberian Hideo. Aku mengeluarkannya. Menimang-nimang pistol itu di hadapan Skye dan Takeru. Mata Skye membelalak.
                Aku mengarahkan pistol itu kearah Takeru, yang memasang wajah kagetnya. Tanpa ba-bi-bu, aku menembaknya. Bunyinya keras, tapi tidak akan terdengar. Kami benar-benar ada di tengah hutan.
                Peluru itu secepat kilat membunuhnya. Sekarang, pasti peluru itu bersemayam di jantungnya. Darah berhamburan dari bekas lukanya.
                Skye menjerit-jerit seperti kesetanan. Tapi dia tak beranjak satu sentipun dari tempatnya.
                Aku berlari kearah Skye. Meraih pisau dagingku. Dan saat aku berhadapan dengannya, aku tersenyum dingin. Skye tidak mengatakan apa-apa. Kurasa dia terlalu takut.
                Tanpa belas kasihan, aku menikam jantungnya dengan pisau daging yang kudapatkan. Mata nya membelalak, nafasnya tesengal-sengal. Sampai akhirnya, aku tak merasakan dia bernafas lagi.
                Aku membelah tubuhnya. Mengeluarkan jantungnya. Aku meraih tangan Skye. Memotong jari-jari lentiknya dengan pisau. Dia tidak berteriak. Nyawanya sudah hilang. Kalau masih bernyawa, aku yakin dia akan berteriak kencang dengan suaranya yang melengking.
                Aku mengkuliti badannya, mencincang dagingnya, menghancurkan juga semua organ dalamnya. Dalam waktu yang singkat, pisauku penuh dengan darah. Terlihat mengkilat di bawah sinar bulan.
                Aku mengambil sebuah botol kecil, membuka tutupnya. Kemudian aku meneteskan darah Skye ke botol kecil itu. "Sparkling Red Juice..." desisku.
                Aku menyalakan api, membakar mayat Skye agar tak bersisa. Aku berjalan pelan kearah mayat Takeru yang sudah dingin.
                Aku mencium bibir mayat Takeru. Sebuah ciuman yang panjang. Sampai aku melepasnya, karena tidak dapat menemukan kehangatan di sana. Dia sudah mati. Sudah pergi. Aku yang membunuhnya...
                Aku menguburkan mayat Takeru. Tidak membuat sebuah gundukan, aku meratakannya dengan tanah. Agar tak ada yang bisa menemukannya.
                Aku kembali ke mayat Skye. Sudah menjadi abu. Aku mengambilnya sedikit, kumasukkan kedalam botol kecil yang sudah ada darah Skye. Aku mengocoknya.
                Aku meraih botol minumanku, kemudian mencampurkan campuran darah dan abu ke air minumku. Aku menegaknya seperti kehausan.
                Abu Skye kubawa. Kemudian aku tiup ke udara. Selamat tinggal Skye...
Chapter 4 : Another Lie
‘     “A.. Aku tidak tahu... Hiks,” aku menangis sesengukan. Sebenarnya, pura-pura menangis sesengukan.
            “Kita hanya bisa pasrah... Semoga mereka pulang,” Mama memasang wajah sedih, begitu pula Papa.
            Maaf aku berbohong. Mereka bukannya hilang karena pergi berdua. Tapi aku yang membuat mereka berdua pergi. Maaf aku berbohong...
**The End**