Setelah nulis tentang pertemuan Hideo dan Saphire di sequel kemarin (Sparkling
Red Juice), jadi ingin nulis tentang mereka lagi XD
Sebuah sequel yang kupersembahkan pada ALIFAH AMALIA ARIF, untuk hadiah ulang tahunnya :)
Teman saya yang sesuatu, L, masih menjadi Hideo. Hahaha, Hideo milikmu, L! Yeah,
mungkin nomor dua setelah biru~ OwO
Okay,
let me start another story of Hideo and Saphire :D
Warning:
There's a “SUICIDE SCENE” inside..
POISON GOES DOWN
***
“Lama gak bertemu,” Hideo
menampilkan senyuman. Senyuman hangat.
“Haha, iya. Lama banget, ya,”
aku memandang matanya.
“Gimana pistol yang waktu itu?
Berguna?” Hideo tersenyum lagi, senyum cool.
“Sangat berguna,” aku menyuap
sepotong cheesecake,
“Ah, pasti kakakmu dan suaminya,
ya?” aku membelalak mendengar pertanyaan Hideo.
“Heh? Bagaimana kamu bisa tahu
kugunakan untuk apa pemberianmu itu?” tanyaku kaget.
“Aku punya banyak mata,” katanya
enteng. Aku tersenyum kecil.
“Aku suka pemberianmu. Terima
kasih banget, ya,” bisikku.
“Kalau begitu, kamu harus main
ke rumahku. Aku punya banyak yang seperti itu.” Hideo meminum kopi-nya.
“Oh ya? Boleh. Sepertinya
menyanangkan,” aku nyengir, membayangkan apa saja isi rumahnya.
“Ini alamatku, datang saja,” dia
memberikanku secarik kertas.
“Terima kasih. Aku akan datang
besok siang. Mungkin sekitar jam 1,” kataku. Dia mengangguk.
“Datang saja,” dia tersenyum.
Entah sejak kapan senyumannya menjadi lebih manis dibanding senyum Takeru...
“Yang kemarin kamu berikan, itu
apa?” tanyaku.
“Yang kemarin? Oh, itu Glock
19,” katanya ringan.
“Dari mana kamu mendapatkannya?
Dan, ada berapa di rumahmu benda seperti itu?” aku bertanya, menyelidik.
“Itu bukan masalah aku
mendapatkannya dari mana,” Hideo nyengir. “Dan untuk sedikit informasi, di
rumah aku mempunyai lima. Enam dengan yang kuberika padamu,” dia tertawa lepas.
Ah, entah mengapa tawanya sangat merdu...
***
Aku mengetuk pintu sebuah rumah
minimalis yang diwarnai dengan cat hitam dan merah. Belum ada yang membukakan,
aku mengetuknya lagi. FYI, aku sedang ada di depan pintu rumah Hideo.
Pintu dibuka, Hideo yang
membukanya. Dia memakai t-shirt biru muda dan jeans, rambutnya basah dan ada
handuk tergantung di bahunya. Air masih menetes sedikit-sedikit dari rambutnya.
Sepertinya dia baru selesai mandi.
“Manusia mana yang baru mandi
jam satu siang lebih lima belas menit?” sindirku.
“Kamu tanya manusia mana? Nih,
ada satu di depanmu,” dia nyengir lebar. Aku mencubit pipinya, gemas.
“Ck, sakit! Lebih baik langsung
tur, saja,” Hideo menarik tanganku, masuk ke dalam rumahnya.
Interior rumahnya di cat biru.
Beberapa barang seperti sofa dan karpet juga berwarna biru. Di pojokan ruang,
ada sebuah gitar elektrik yang dipajang.
Warnanya? Biru-putih.
“Kamu suka biru, ya?” gumamku.
Dia tidak menjawab, tapi dia
membawaku ke lantai atas. Saat sudah sampai di lantai atas, dia menarikku
menuju sebuah kamar. Dia membuka kamar itu.
“Ini adalah.... Galeri seni-ku,”
dia tersenyum misterius.
Hideo menarikku ke dalam. Dia
melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sebuah lemari.
Aku melihat-lihat isi ruangan
itu. Wow, segala macam senjata api tergantung di dinding. Tidak hanya satu
setiap jenis. Satu jenis bisa sampai ada tiga, atau malahan lebih.
Hideo kembali, membawa sebuah
peti besar berwarna hitam. Saat sampai di sebelahku, dia membukanya.
“Akan kutunjukkan beberapa,” dia
nyengir.
“Ini Glock 19, persis kan dengan
yang kuberikan padamu? Yang ini Barreta 92, nah ini Walther P99. Yang satu ini AK47,
kalau yang ini MK-16. Ini SS-1, ini H&K G-3,” Hideo terus menjelaskan
berbagai macam kepadaku. Aku mencermati setiap perkataanya. Aku ingin tahu apa
yang dia suka.
“Wow, kamu sangat menyukainya,
ya?” kataku, setelah dia menyelesaikan ceramah panjangnya tentang segala macam
senjata api.
“Tentu, aku mengoleksi
benda-benda ini. Dan mengedarkannya secara gelap,” dia nyengir polos.
“Kalau begitu, kamu harus main
ke lemari penyimpanan pribadiku,” kataku dengan nada sombong.
“Memang ada apa?” tanyanya
penasaran.
“Minuman keras. Kamu tahu? Aku
punya wine berusia beberapa ratus tahun. Aku berani taruhan rasaya akan sangat
enak,” aku tersenyum puas.
“Nah, hobi kita sama-sama keren.
Ayo pacaran saja!” Hideo tertawa renyah, suaranya menghangatkan hatiku. Aku
merasa suara tawanya sudah seperti musik pengantar tidur yang sangat indah.
“Tergantung seberapa suka kamu
denganku!” aku tertawa juga. Rasanya sangat menyenangkan berada di
sampingnya... Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Pada Hideo?
***
“Hahaha! Mana ada!” aku tertawa
lepas. Hideo yang ada di sampingku juga tertawa.
“Ada! Aku!” kami tertawa kencang
lagi.
Aku dan Hideo sedang berada di taman.
Dia mengajakku. Kupikir ini seperti kencan. Dan, dari tadi banyak gadis-gadis
yang menatapku iri karena kencan dengan cowok keren seperti Hideo. Bagus
sekali, aku merasa bangga. Hahaha.
“Err, Saphire? Kurasa ada yang
ingin aku bicarakan,” untuk sesaat Hideo terlihat ragu-ragu. Oh, jangan katakan
ini perpisahan! Aku sudah jatuh cinta padanya! Jangan sampai ini menjadi
pertemuan terakhir kami!
“Yeah, katakan saja...” aku
menatap langit. Tuhan, jangan bilang ini perpisahan. Tolong...
“Saphire, je t’aime...” bisiknya
ditelingaku.
Je t’aime? Bahasa Perancis?
Untuk I love you?
“Jangan bercanda, Hideo,”
kataku. Terlalu indah untuk
memercayainya bahwa yang dia katakan kenyataan. Cowok yak kusukai juga
menyukaiku? Wow! Bisa saja bohong, kan?
“Tatap aku,” katanya, dengan
suara yang kalem.
Aku menoleh padanya. Dia meraih
daguku lembut dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Aku memejamkan mataku,
berodoa kalau ini bukan mimpi.
Bibirnya terlepas dari bibirku,
aku membuka mataku dengan perlahan. Aku merasakan kalau wajahku memanas. Aku
menatap matanya, yang baru kusadari berwarna biru seperti laut. Entah kenapa
aku baru sadar warna matanya seindah itu. Kemana saja aku selama ini, tidak
memperhatikan matanya yang sangat jernih itu?
“Aku tidak akan mencium gadis
yang tidak benar-benar kusukai,” katanya lembut, balas menatap mataku.
Aku mengalungkan kedua tanganku
pada lehernya. Lalu menciumnya. Heh, boleh kan, cewek yang mulai duluan?
Dia memperdalamnya ciuman kami.
Bibirnya melumat bibir bawahku, dan aku membalasnya dengan melumat bibir
atasnya. Oh God, it does feels like
heaven. Aku membuka mulutku, meberinya akses masuk. Membuat kami terus
berciuman, entah sampai berapa kali.
Aku menyenderkan kepalaku di
bahunya. “Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu...” bisikku. Dia mengecup
singkat puncak kepalaku.
“Aku tak akan melepaskanmu,”
bisiknya. Kami berdua tersenyum.
***
“Saphire, katakan pada Mama
dengan jujur!” Mama menggertakan giginya.
“Iya, aku pacaran dengannya!
Memang kenapa?” tantangku.
“Saphire, jaga cara bicaramu,” Papa
memperingatkan.
“Saphire! Jangan bercanda!” mata
Mama membulat.
“Aku memang tidak bercanda,”
kataku dengan nada tidak peduli.
“Jangan gila, Saphire! Dia
pengedar senjata api!” teriak Mama, sepertinya frustasi.
“Lalu? Memangnya ada masalah
dengan itu?” tanyaku.
“Dia mengedarkannya, Saphire!
Dia pengedar! Dia memiliki potensi membahayakan Negara, tahu tidak?! Kalau dia
menyebar luaskan senjata itu, teroris bisa saja membelinya dan menembak
orang-orang! Dan, bagaimana kalau kamulah yang tertembak?!” Mama berteriak
lagi.
“Mama, sekarang aku mengerti
semua maksudmu. Kau tidak mau aku tertembak karena tak mau mengurusi
pemakamanku, kan?” aku masih dengan nada tidak peduli.
“Saphire! Jaga ucapanmu!” Papa
memperingatkan sekali lagi, dengan nada yang lebih keras.
“Kalian tak perlu bayar biaya
pemakamanku. Rekeningku masih cukup banyak isinya untuk biaya pemakaman
beberapa orang. Kalau kalian tidak mau mengeluarkan uang kalian yang sangat
berharga untuk bayar biaya pemakaman anak yang tidak berguna ini, pakai uang
dari rekeningku saja,” ujarku.
“Saphire!” jerit Mama kaget.
“Ya Tuhan, Saphire! Apa sih yang
merasukimu?” Papa juga tampak kaget.
Aku pergi dari ruangan tanpa
ba-bi-bu. Aku bisa mendengar tangisan Mama, yang menurutku terdengar agak
berlebihan. Aku tahu dari dulu, kok, kalau mereka lebih sayang pada Skye
daripada aku. Urusan itu sih terlihat dengan sangat jelas, ya.
Jadi, kurasa, kalau aku mati,
hidup mereka malah lebih tenang, kan?
***
“Hubungan kita tidak disetujui
Papa dan Mamaku...” bisikku pelan. Kami sedang di taman kota, kencan.
“Aku sudah tahu,” katanya.
“Tapi sampai kapanpun, aku akan
terus bersamamu,” ucapku, tersenyum lembut.
“Aku akan mati bersamamu,” kata
Hideo pelan.
“Tunggu disini sebentar,”
kataku, Hideo mengangguk.
Aku melangkah ke sebatang pohon
besar dengan daun yang rimbun. Pohon ini adalah pohon yang paling besar di
taman ini. Aku mengeluarkan pisau lipatku. Mengukir kata-kata di batang pohon
itu.
Cintaku tulus padamu, hatiku
ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak
ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu
dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose
Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu
mempersatukan kita, selama lamanya...
Aku mengantungi lagi pisau lipatku.
Aku menatap puas hasil karyaku yang sekarang terukir batang pohon.
Aku berlari. Kembali ke Hideo.
“Apa yang tadi kamu lakukan?”
tanyanya, menyelidik.
“Tidak ada,” jawabku riang. Dia tak
perlu tahu...
***
“Saphire, tadi Mama mendapat
laporan dari salah seorang tetangga kalau kau ada di taman kota bersama
laki-laki itu,” kata Mama galak.
“Ya, tetangga yang baik. Informasi
yang dia berikan akurat. Sore ini aku memang kencan dengan Hideo,” kataku.
“Saphire! Mama sudah
memperingatkanmu!” gertak Mama.
“Dan aku terlalu mencintainya,”
jawabku.
“Kau bukan Saphire-ku! Kau bukan
Saphire anakku! Saphire tidak begini! Saphire seorang anak yang sangat manis
dan penurut!” teriak Mama.
“Mungkin. Tapi lihat saja
besok,” desisku, lalu pergi meninggalkan Mama yang masih mengomel.
***
Aku ada di ruang bawah tanah rumah Hideo. Aku tidak tahu rumahnya punya
ruang bawah tanah senyaman ini. Semuanya sudah diatur Hideo agar menjadi tempat
persembunyian yang aman dan nyaman. Didekor olehnya dengan benda-benda berwarna
biru.
“Saphire,
kamu yakin?” tanya Hideo kalem.
“Aku
sangat yakin, Hideo,” bisikku.
“Aku
tahu ibumu membenciku. Tapi, apakah menurutmu semuanya harus berakhir begini?”
tanyanya halus. Suaranya halus, lembut. Seperti kain sutra...
“Aku
pribadi, sih, yakin. Ini keputusan finalku. Sisanya, itu ada pada tanganmu,”
aku menatapnya sayu.
“Seperti
yang kukatakan padamu di taman waktu itu. Aku akan mati bersamamu,” jawabnya
kalem.
Kami
berbaring di karpet biru Hideo, masih di ruang bawah tanahnya. Tangan kiriku
bergandengan dengan tangan kanannya, dan tangan kananku membawa sebuah
suntikan. Suntikan berisi racun, yang berbahaya bagi manusia.
“1,
2, 3...” kami menghitung bersama.
Saat
hitungan kesepuluh, aku dan Hideo secara bersamaan munyuntikan racun itu ke
tubuh kami masing-masing. Aku memejamkan mata.
Ruang
bawah tanah ini hanya bisa dibuka dengan menggunakan kata kunci dan dilengkapi
pengamanan super canggih. Dan hanya Hideo yang mengetahui kata kuncinya.
Mungkin, jika suatu saat kami ditemukan, kami sudah tinggal tulang belulang
berselimut debu...
***
NORMAL
POV
Di
taman kota, di batang sebuah pohon yang paling besar di sana, terdapat dua
ukiran tulisan. Satu ditulis oleh seorang perempuan, dan satu lagi adalah
balasannya, dari kekasihnya. Yang entah kapan diukir di batang pohon tersebut.
Cintaku tulus padamu, hatiku
ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak
ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu
dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose
Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu
mempersatukan kita, selama lamanya...
Saat bersamamu, aku
merasa berbeda. Aku bisa melakukan yang sebelumnya kurasa tak dapat kulakukan...
Hanya saat bersamamulah, aku bisa menjadi aku...
Dariku, Hideo Xavier
Stephenson. Untuk gadisku, Saphire... Kita memang ditakdirkan
untuk selalu
bersama...
~*The
End*~
Merasa kurang puas dengan sequel
kemarin, semakin membangkitkan semangat untuk nulis ini XD
Ide awal, Hideo dan Saphire bunuh
diri setelah kawin lari gak jadi di pakai. Kesannya lebay, banget XDDD
Thanks
for read :)
Aku menyelesaikannya dalam sehari, sampai jam 12:08 AM
XDD
0 Comments!:
Post a Comment
Gimme some cookies?