April 08, 2012

Second Sequel: Poison Goes Down

The second sequel of ‘Tears of the First Love ~Story~’
Setelah nulis tentang pertemuan Hideo dan Saphire di sequel kemarin (Sparkling Red Juice), jadi ingin nulis tentang mereka lagi XD

Sebuah sequel yang kupersembahkan pada ALIFAH AMALIA ARIF, untuk hadiah ulang tahunnya :)

Teman saya yang sesuatu, L, masih menjadi Hideo. Hahaha, Hideo milikmu, L! Yeah, mungkin nomor dua setelah biru~ OwO

Okay, let me start another story of Hideo and Saphire :D
Warning: There's a “SUICIDE SCENE” inside..
POISON GOES DOWN
***
                “Lama gak bertemu,” Hideo menampilkan senyuman. Senyuman hangat.
                “Haha, iya. Lama banget, ya,” aku memandang matanya.
                “Gimana pistol yang waktu itu? Berguna?” Hideo tersenyum lagi, senyum cool.
                “Sangat berguna,” aku menyuap sepotong cheesecake,
                “Ah, pasti kakakmu dan suaminya, ya?” aku membelalak mendengar pertanyaan Hideo.
                “Heh? Bagaimana kamu bisa tahu kugunakan untuk apa pemberianmu itu?” tanyaku kaget.
                “Aku punya banyak mata,” katanya enteng. Aku tersenyum kecil.
                “Aku suka pemberianmu. Terima kasih banget, ya,” bisikku.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke rumahku. Aku punya banyak yang seperti itu.” Hideo meminum kopi-nya.
                “Oh ya? Boleh. Sepertinya menyanangkan,” aku nyengir, membayangkan apa saja isi rumahnya.
                “Ini alamatku, datang saja,” dia memberikanku secarik kertas.
                “Terima kasih. Aku akan datang besok siang. Mungkin sekitar jam 1,” kataku. Dia mengangguk.
                “Datang saja,” dia tersenyum. Entah sejak kapan senyumannya menjadi lebih manis dibanding senyum Takeru...
                “Yang kemarin kamu berikan, itu apa?” tanyaku.
                “Yang kemarin? Oh, itu Glock 19,” katanya ringan.
                “Dari mana kamu mendapatkannya? Dan, ada berapa di rumahmu benda seperti itu?” aku bertanya, menyelidik.
                “Itu bukan masalah aku mendapatkannya dari mana,” Hideo nyengir. “Dan untuk sedikit informasi, di rumah aku mempunyai lima. Enam dengan yang kuberika padamu,” dia tertawa lepas. Ah, entah mengapa tawanya sangat merdu...
***
                Aku mengetuk pintu sebuah rumah minimalis yang diwarnai dengan cat hitam dan merah. Belum ada yang membukakan, aku mengetuknya lagi. FYI, aku sedang ada di depan pintu rumah Hideo.
                Pintu dibuka, Hideo yang membukanya. Dia memakai t-shirt biru muda dan jeans, rambutnya basah dan ada handuk tergantung di bahunya. Air masih menetes sedikit-sedikit dari rambutnya. Sepertinya dia baru selesai mandi.
                “Manusia mana yang baru mandi jam satu siang lebih lima belas menit?” sindirku.
                “Kamu tanya manusia mana? Nih, ada satu di depanmu,” dia nyengir lebar. Aku mencubit pipinya, gemas.
                “Ck, sakit! Lebih baik langsung tur, saja,” Hideo menarik tanganku, masuk ke dalam rumahnya.
                Interior rumahnya di cat biru. Beberapa barang seperti sofa dan karpet juga berwarna biru. Di pojokan ruang, ada sebuah gitar  elektrik yang dipajang. Warnanya? Biru-putih.
                “Kamu suka biru, ya?” gumamku.
                Dia tidak menjawab, tapi dia membawaku ke lantai atas. Saat sudah sampai di lantai atas, dia menarikku menuju sebuah kamar. Dia membuka kamar itu.
                “Ini adalah.... Galeri seni-ku,” dia tersenyum misterius.
                Hideo menarikku ke dalam. Dia melepaskan genggaman tangannya dan berjalan ke sebuah lemari.
                Aku melihat-lihat isi ruangan itu. Wow, segala macam senjata api tergantung di dinding. Tidak hanya satu setiap jenis. Satu jenis bisa sampai ada tiga, atau malahan lebih.
                Hideo kembali, membawa sebuah peti besar berwarna hitam. Saat sampai di sebelahku, dia membukanya.
                “Akan kutunjukkan beberapa,” dia nyengir.
                “Ini Glock 19, persis kan dengan yang kuberikan padamu? Yang ini Barreta 92, nah ini Walther P99. Yang satu ini AK47, kalau yang ini MK-16. Ini SS-1, ini H&K G-3,” Hideo terus menjelaskan berbagai macam kepadaku. Aku mencermati setiap perkataanya. Aku ingin tahu apa yang dia suka.
                “Wow, kamu sangat menyukainya, ya?” kataku, setelah dia menyelesaikan ceramah panjangnya tentang segala macam senjata api.
                “Tentu, aku mengoleksi benda-benda ini. Dan mengedarkannya secara gelap,” dia nyengir polos.
                “Kalau begitu, kamu harus main ke lemari penyimpanan pribadiku,” kataku dengan nada sombong.
                “Memang ada apa?” tanyanya penasaran.
                “Minuman keras. Kamu tahu? Aku punya wine berusia beberapa ratus tahun. Aku berani taruhan rasaya akan sangat enak,” aku tersenyum puas.
                “Nah, hobi kita sama-sama keren. Ayo pacaran saja!” Hideo tertawa renyah, suaranya menghangatkan hatiku. Aku merasa suara tawanya sudah seperti musik pengantar tidur yang sangat indah.
                “Tergantung seberapa suka kamu denganku!” aku tertawa juga. Rasanya sangat menyenangkan berada di sampingnya... Apa mungkin aku jatuh cinta padanya? Pada Hideo?
***
                “Hahaha! Mana ada!” aku tertawa lepas. Hideo yang ada di sampingku juga tertawa.
                “Ada! Aku!” kami tertawa kencang lagi.
                Aku dan Hideo sedang berada di taman. Dia mengajakku. Kupikir ini seperti kencan. Dan, dari tadi banyak gadis-gadis yang menatapku iri karena kencan dengan cowok keren seperti Hideo. Bagus sekali, aku merasa bangga. Hahaha.
                “Err, Saphire? Kurasa ada yang ingin aku bicarakan,” untuk sesaat Hideo terlihat ragu-ragu. Oh, jangan katakan ini perpisahan! Aku sudah jatuh cinta padanya! Jangan sampai ini menjadi pertemuan terakhir kami!
                “Yeah, katakan saja...” aku menatap langit. Tuhan, jangan bilang ini perpisahan. Tolong...
                “Saphire, je t’aime...” bisiknya ditelingaku.
                Je t’aime? Bahasa Perancis? Untuk I love you?
                “Jangan bercanda, Hideo,” kataku.  Terlalu indah untuk memercayainya bahwa yang dia katakan kenyataan. Cowok yak kusukai juga menyukaiku? Wow! Bisa saja bohong, kan?
                “Tatap aku,” katanya, dengan suara yang kalem.
                Aku menoleh padanya. Dia meraih daguku lembut dan menyentuh bibirku dengan bibirnya. Aku memejamkan mataku, berodoa kalau ini bukan mimpi.
                Bibirnya terlepas dari bibirku, aku membuka mataku dengan perlahan. Aku merasakan kalau wajahku memanas. Aku menatap matanya, yang baru kusadari berwarna biru seperti laut. Entah kenapa aku baru sadar warna matanya seindah itu. Kemana saja aku selama ini, tidak memperhatikan matanya yang sangat jernih itu?
                “Aku tidak akan mencium gadis yang tidak benar-benar kusukai,” katanya lembut, balas menatap mataku.
                Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. Lalu menciumnya. Heh, boleh kan, cewek yang mulai duluan?
                Dia memperdalamnya ciuman kami. Bibirnya melumat bibir bawahku, dan aku membalasnya dengan melumat bibir atasnya. Oh God, it does feels like heaven. Aku membuka mulutku, meberinya akses masuk. Membuat kami terus berciuman, entah sampai berapa kali.
                Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. “Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu...” bisikku. Dia mengecup singkat puncak kepalaku.
                “Aku tak akan melepaskanmu,” bisiknya. Kami berdua tersenyum.
***
                “Saphire, katakan pada Mama dengan jujur!” Mama menggertakan giginya.
                “Iya, aku pacaran dengannya! Memang kenapa?” tantangku.
                “Saphire, jaga cara bicaramu,” Papa memperingatkan.
                “Saphire! Jangan bercanda!” mata Mama membulat.
                “Aku memang tidak bercanda,” kataku dengan nada tidak peduli.
                “Jangan gila, Saphire! Dia pengedar senjata api!” teriak Mama, sepertinya frustasi.
                “Lalu? Memangnya ada masalah dengan itu?” tanyaku.
                “Dia mengedarkannya, Saphire! Dia pengedar! Dia memiliki potensi membahayakan Negara, tahu tidak?! Kalau dia menyebar luaskan senjata itu, teroris bisa saja membelinya dan menembak orang-orang! Dan, bagaimana kalau kamulah yang tertembak?!” Mama berteriak lagi.
                “Mama, sekarang aku mengerti semua maksudmu. Kau tidak mau aku tertembak karena tak mau mengurusi pemakamanku, kan?” aku masih dengan nada tidak peduli.
                “Saphire! Jaga ucapanmu!” Papa memperingatkan sekali lagi, dengan nada yang lebih keras.
                “Kalian tak perlu bayar biaya pemakamanku. Rekeningku masih cukup banyak isinya untuk biaya pemakaman beberapa orang. Kalau kalian tidak mau mengeluarkan uang kalian yang sangat berharga untuk bayar biaya pemakaman anak yang tidak berguna ini, pakai uang dari rekeningku saja,” ujarku.
                “Saphire!” jerit Mama kaget.
                “Ya Tuhan, Saphire! Apa sih yang merasukimu?” Papa juga tampak kaget.
                Aku pergi dari ruangan tanpa ba-bi-bu. Aku bisa mendengar tangisan Mama, yang menurutku terdengar agak berlebihan. Aku tahu dari dulu, kok, kalau mereka lebih sayang pada Skye daripada aku. Urusan itu sih terlihat dengan sangat jelas, ya.
                Jadi, kurasa, kalau aku mati, hidup mereka malah lebih tenang, kan?
***
                “Hubungan kita tidak disetujui Papa dan Mamaku...” bisikku pelan. Kami sedang di taman kota, kencan.
                “Aku sudah tahu,” katanya.
                “Tapi sampai kapanpun, aku akan terus bersamamu,” ucapku, tersenyum lembut.
                “Aku akan mati bersamamu,” kata Hideo pelan.
                “Tunggu disini sebentar,” kataku, Hideo mengangguk.
                Aku melangkah ke sebatang pohon besar dengan daun yang rimbun. Pohon ini adalah pohon yang paling besar di taman ini. Aku mengeluarkan pisau lipatku. Mengukir kata-kata di batang pohon itu.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...
            Aku mengantungi lagi pisau lipatku. Aku menatap puas hasil karyaku yang sekarang terukir batang pohon.
            Aku berlari. Kembali ke Hideo.
            “Apa yang tadi kamu lakukan?” tanyanya, menyelidik.
            “Tidak ada,” jawabku riang. Dia tak perlu tahu...
***
                “Saphire, tadi Mama mendapat laporan dari salah seorang tetangga kalau kau ada di taman kota bersama laki-laki itu,” kata Mama galak.
                “Ya, tetangga yang baik. Informasi yang dia berikan akurat. Sore ini aku memang kencan dengan Hideo,” kataku.
                “Saphire! Mama sudah memperingatkanmu!” gertak Mama.
                “Dan aku terlalu mencintainya,” jawabku.
                “Kau bukan Saphire-ku! Kau bukan Saphire anakku! Saphire tidak begini! Saphire seorang anak yang sangat manis dan penurut!” teriak Mama.
                “Mungkin. Tapi lihat saja besok,” desisku, lalu pergi meninggalkan Mama yang masih mengomel.
***
            Aku ada di ruang bawah tanah rumah Hideo. Aku tidak tahu rumahnya punya ruang bawah tanah senyaman ini. Semuanya sudah diatur Hideo agar menjadi tempat persembunyian yang aman dan nyaman. Didekor olehnya dengan benda-benda berwarna biru.
                “Saphire, kamu yakin?” tanya Hideo kalem.
                “Aku sangat yakin, Hideo,” bisikku.
                “Aku tahu ibumu membenciku. Tapi, apakah menurutmu semuanya harus berakhir begini?” tanyanya halus. Suaranya halus, lembut. Seperti kain sutra...
                “Aku pribadi, sih, yakin. Ini keputusan finalku. Sisanya, itu ada pada tanganmu,” aku menatapnya sayu.
                “Seperti yang kukatakan padamu di taman waktu itu. Aku akan mati bersamamu,” jawabnya kalem.
                Kami berbaring di karpet biru Hideo, masih di ruang bawah tanahnya. Tangan kiriku bergandengan dengan tangan kanannya, dan tangan kananku membawa sebuah suntikan. Suntikan berisi racun, yang berbahaya bagi manusia.
                “1, 2, 3...” kami menghitung bersama.
                Saat hitungan kesepuluh, aku dan Hideo secara bersamaan munyuntikan racun itu ke tubuh kami masing-masing. Aku memejamkan mata.
                Ruang bawah tanah ini hanya bisa dibuka dengan menggunakan kata kunci dan dilengkapi pengamanan super canggih. Dan hanya Hideo yang mengetahui kata kuncinya. Mungkin, jika suatu saat kami ditemukan, kami sudah tinggal tulang belulang berselimut debu...
***
NORMAL POV
                Di taman kota, di batang sebuah pohon yang paling besar di sana, terdapat dua ukiran tulisan. Satu ditulis oleh seorang perempuan, dan satu lagi adalah balasannya, dari kekasihnya. Yang entah kapan diukir di batang pohon tersebut.
Cintaku tulus padamu, hatiku ini selalu untukmu. Aku milikmu, seutuhnya milikmu, selamanya milikmu...Tidak ada yang bisa membawamu pergi dariku,,. Tidak ada yang bisa memisahkanmu dariku... Bahkan takdir sekalipun...
Dariku, Saphire Rose Angelline. Teruntukmu, Hideo ku yang sangat kusayang... Semoga Tuhan selalu mempersatukan kita, selama lamanya...

Saat bersamamu, aku merasa berbeda. Aku bisa melakukan yang sebelumnya kurasa tak dapat kulakukan... Hanya saat bersamamulah, aku bisa menjadi aku...

Dariku, Hideo Xavier Stephenson. Untuk gadisku, Saphire... Kita memang ditakdirkan 
untuk selalu bersama...

~*The End*~

Merasa kurang puas dengan sequel kemarin, semakin membangkitkan semangat untuk nulis ini XD
Ide awal, Hideo dan Saphire bunuh diri setelah kawin lari gak jadi di pakai. Kesannya lebay, banget XDDD
Thanks for read :)                                       
Aku menyelesaikannya dalam sehari, sampai jam 12:08 AM XDD

0 Comments!:

Post a Comment

Gimme some cookies?