April 05, 2012

Sparkling Red Juice


Sequel dari TEARS OF THE FIRST LOVE ~STORY~
Atas permintaan Alifah Igor Tarigan Queen Alifah The Third :D
My friend, L, as Hideo :D 


Tears of the First Love ~Story~ Sequel:
SPARKLING RED JUICE

Author: Za-ra
Rate: M for bloody scene
Genre: Angst/Crime
Warning: Bloody scene all over the story, gaje, abal, aneh, better to read the first story: Tears of the First Love ~Story~

Aku tidak peduli lagi tentang apapun. Meskipun jalan yang kuambil merupakan pilihan terakhir yang membuatku lebih kotor, lebih berdosa dari pada makhluk hidup lain yang hidup di bumi. Persetan dengan semuanya, aku benci dia...


Chapter 1 : Meet
                “Saphire!” lengking seseorang, memanggil namaku. Lamunanku buyar. Ah, dia.
                Aku sedang di bandara, menjemput kepulangan Mama dan Skye, bersama Papa. Dan tebak apa, dia ada di hadapanku sekarang. Dan tahu tidak, dia menggandeng cowok itu. Ya, cowok itu...
               Takeru Yo, suaminya, sekaligus cowok yang kutaksir, sampai sekarang. Aku kenal cowok itu, Takeru Yo, di Facebook, dan dengan menyebalkan, Skye menikahinya. Cih, dasar kakak sialan si Skye itu!
                Aku dendam padanya. Bisa-bisanya dia dan aku naksir cowok yang sama (walau dia gak tahu aku naksir suaminya sampai sekarang. Kita tinggal terpisah dan tidak pernah sama sekali berkomunikasi), dan kemudian dia menikahi cowok itu. Shit, apa-apaan itu?!
                Dan sekarang, Skye dan suaminya itu ada di depanku, dengan wajah bahagia. Damn, benar-benar menyebalkan.
                Seseorang memelukku dengan erat. Pasti Skye. Bau parfumnya tercium jelas di hidungku. Baunya manis, sangat manis, aku curiga komposisi parfum itu termasuk esens es krim dan satu batang lolipop. Sangat bukan tipe parfum kesukaanku. Aku suka yang menyengat, tapi tidak manis.
                Skye melepaskan pelukannya, berdiri di hadapanku dengan wajah berseri-seri. Rambut merahnya berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, menimbulkan efek dramatis. Dia memakai tanktop pink, jaket abu-abunya dia ikat di pinggang. Dia melengkapinya dengan hotpants jeans-nya, juga wedges pink dan kacamata ber-frame merah. Dia melapisi wajahnya dengan bedak tipis, memakai maskara dan memoles bibirnya dengan lipstick baby pink.
                Takeru, kakak iparku yang sangat kucintai setengah mati (sebagai laki-laki, bukan kakak), dia memakai t-shirt putih dengan potongan leher v-neck dan celana jeans. Dia menggunakan sneakers hitam. Simple. Seksi.
                Engh, ternyata Takeru (yang merupakan laki-laki yang kucintai sampai sekarang. Persetan dengan pernikahannya dengan Skye) aslinya lebih seksi daripada fotonya. Kulitnya putih bagai mutiara, bersinar di bawah matahari bagaikan kristal. Wajahnya tegas, terlihat dingin, tapi imut pada saat yang bersamaan.
                “Apa kabarmu?” tanya Skye dengan semangat menggebu-gebu. Sepertinya dia mau meledak. Aku hanya menatapnya dingin.
                “Eh? Ini suamiku, Tekeru!” Skye mungkin menyadari aku berubah sikap, jadi dia langsung mengubah arah pembicaraan.
                “Takeru Yo, desu!” kata Takeru. Oh astaga, suaranya seksi sekali.
                “Saphire Rose Angelline, desu. Yoroshiku onegaishimasu!” jawabku. Gini-gini aku juga bisa Bahasa Jepang sedikit-sedikit!
                “Saphire? Angelline? Tunggu sepertinya kenal...” Takeru terlihat berfikir. Ayo, ingat aku. Ingat aku...
                “Saphira Saphire Angelline, eh?” akhirnya dia mengingatnya! Aku mengangguk.
                “Benar,” aku tersenyum sedikit.
                Takeru memelukku. Dia mengangkatku ke udara seperti anak kecil. “Saphire my lil’ sister!” teriaknya. Aku tertawa renyah. Meskipun dia menganggapku sebagai adiknya, terserah. Yang penting dia memelukku. It does feels like heaven... Yeah, karena aku memang cinta padanya.
                “Ho? Kalian sudah kenal, ya?” tanya Skye, melongo. Cih, tambah jelek saja! Aku tidak mengerti Takeru kelilipan pasir dari negara mana sampai mau menikah dengan Skye. Bagusan juga aku kemana-mana!
                Takeru menurunkanku dan melepas pelukannya. “Ya, kami kenal di Facebook. Adikmu ini lucu, sekali lho, love.” Takeru tersenyum menggoda. Bukan untukku, untuk Skye. Cih.
                “Kau lupa dia adik siapa. Dia adikku, dear~” balas Skye. Cih, aku muak! Aku sebal! Benci! Benci! Benci!
                Papa menyela, sambil menggandeng mama, “ayo pulang. Kalian pasti capek, kan?” kata Papa. Membuat kami semua diam dan mengikutinya ke parkiran.
***
                Sampai di rumah, aku lansung masuk ke kamarku, tidak lupa untuk membanting pintunya. Aku lansung membaringkan diriku di kasur. Tapi belum lima menit aku beristirahat, ada ketukan di pintu. Aku membukanya. Ugh, Skye!
                “Boleh aku pakai kamar mandimu, Saphire? Kamar mandi di kamarku di pakai Takeru...” kata Skye.
                Rasanya aku ingin menyahut ‘mandi saja sana sama Takeru-mu! Dia kan suamimu!’ tapi tak jadi. Nanti dia benar-benar memakai saranku. Otaknya kan gak pernah betul dari dulu.
                “Silahkan pakai,” aku memutuskan memberikannya tumpangan untuk mandi di kamar mandiku.
                “Terimakasih!” serunya girang, sebelum melesat ke kamar mandi.
                Aku menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tak lama, aku mendengar pintu kamar mandi dibuka.
                “Terimakasih, ya, Saphire! Um, untuk sementara sabun dan shampoo-ku kutitip di kamar mandimu, boleh?” tanyanya. Aku mengiyakan saja supaya cepat.
                Aku masuk ke kamar mandiku, bau sabun Skye tercium. Oh, astaga! Aku melangkah masuk, menuju kearah rak yang berisi sabun dan shampoo. Aku meraih sabun yang asing, sabun milik Skye.
                Aku membaca tulisan di botol sabun cair milik Skye. Ugh, pantas saja! Dia memakai es krim rasa vanilla untuk mandi! Aku juga meraih shampoo-nya. Gah, dia juga memakai es krim vanilla yang sama untuk keramas, rupanya!
                Sabar, Saphire, sabar. Hidupmu belum berakhir sekarang. Kau masih terlalu muda untuk bunuh diri...
Chapter 2 : Vacation
      “Hah? Aku?” mataku terbelalak.
                “Iya! Kami ingin mengajakmu juga. Aku sangat merindukanmu, tau, Saphire! Maka itu, kami ingin mengajakmu liburan sama-sama!” Skye nyengir, Takeru tersenyum.
                “Oke, aku ikut,” aku memaksakan tersenyum, dan dalam hati aku melanjutkan perkataanku, ‘demi Takeru’.
                “Kita berangkat siang ini,” Takeru tersenyum manis.
                “Ayo siap-siap!” seru Skye girang. Huh, cerewet!
***
                Aku lupa apa yang terjadi selama perjalanan. Tiba-tiba saja, aku sudah terbaring di kasur penginapan. Halah, peduli amatlah!
                Aku sendirian di kamar ini. Berarti Skye dan Takeru ada di kamar sebelah. Aku keluar dari kamar, tentunya setelah membereskan penampilanku.
                “Hei!” aku mendengar seseorang menyapaku. Aku menengok. Eh? Orang asing?
                “Siapa namamu? Aku anak pemilik penginapan. Hideo Stephenson!” aku pasang wajah bingung. Namanya belasteran banget! Dan satu lagi, marga-nya sama dengan marga sahabatku yang bernama Amber Stephenson. Dunia akan terasa sangat kecil kalau mereka ternyata sepupu.
                “Saphire Rose Angelline,” aku tersenyum sedikit.
                “Di basement penginapan ini ada bar-nya, lho. Mau kesana?” Hideo tersenyum iseng.
                “Ayo!” aku menyanggupinya.
***
                “Kau mau apa? Pernah minum sebelumnya? Kalau belum, biar kupesankan soda,” tanya Hideo.
                “Aku mau cocktail. Pilihkan cocktail apapun lah, terserah. Dan ya, aku pernah minum. Wine sekali pada acara keluarga, champagne pada pernikahan teman papaku, beberapa kali cocktail juga,” aku menjawab sembari dia memesan minuman.
                “Kamu kelihatan masih kecil...” dia memasang wajah curiga.
                “Ho, terima kasih,” aku memutar bola mataku.
               “Aku tidak tega mencekoki anak kecil dengan cocktail. Kamu kubelikan soda,” Hideo menyerahkan soda padaku. Ha, dia ternyata juga cuma beli soda! Kupikir, dia justru mau minum apa, gitu. Bourbon, cognac, vodka, sherry, gin, tequila, champagne, atau apalah terserah.
                “Hey, Hideo,” kataku, memanggil namanya.
                “Hm?” balasnya, sambil menyeruput sodanya.
                “Kalau kamu naksir seseorang, benar-benar cinta mati padanya, kemudian dia menikah dengan seseorang. Apa yang kira-kira akan kamu lakukan?” tanyaku.
                “Aku? Aku mungkin akan jadi orang paling jahat sedunia. Aku akan membunuh orang itu,” kata Hideo dengan nada dingin. Aku tersedak soda.
                “Gila kamu!” kataku kaget, setelah bisa mengatur nafas.
                “Aku gak mau kehilangan orang yang kusayang. Itu saja,” jawab Hideo kalem.
                “Wow, kamu keren, Hideo!” aku tersenyum.
                “Hahaha. Nah, kurasa aku ingin memberikanmu ini,” Hideo mengeluarkan pistol dari sakunya. Aku kaget, buat apa dia bawa-bawa pistol?
                “Hi-Hideo?” aku memandangnya penuh tanda tanya.
                “Siapa tahu kamu butuh. Simpan saja.” Hideo memberikan pistolnya padaku, beserta beberapa peluru berwarna keperakan.
                Kami berdua menghabiskan soda kami dalam diam...
***
                Aku melangkah ke dapur penginapan. Mengambil sebuah pisau daging. Seperti kata Hideo sebelumnya, siapa tahu aku membutuhkannya...
***
Chapter 3 : Under The Moonlight
                “Skye, Takeru! Ayo temani aku ke hutan. Ayo kita melihat bulan!” aku berkata dengan ramah. Tanganku kumasukkan ke kantung jaketku. Jariku bisa merasakan ujung pistol disana. Terasa hangat.
                “Ayo!” seru Skye, dan dalam lima menit berikutnya, kami sudah berjalan menuju hutan.
                Aku memimpin jalan dalam diam. Terkadang aku mendengar Skye bersenandung tidak jelas.
                Kami sampai. Tepat di tengah hutan. Tempat yang sangat sepi.
                “Eh? Memang disini bisa melihat bulan?” tanya Skye polos.
                “Gelap dimana-mana,” celetuk Takeru iseng.
                Di dalam kantung jaketku, aku memasukkan satu peluru berwarna keperakan pemberian Hideo. Aku mengeluarkannya. Menimang-nimang pistol itu di hadapan Skye dan Takeru. Mata Skye membelalak.
                Aku mengarahkan pistol itu kearah Takeru, yang memasang wajah kagetnya. Tanpa ba-bi-bu, aku menembaknya. Bunyinya keras, tapi tidak akan terdengar. Kami benar-benar ada di tengah hutan.
                Peluru itu secepat kilat membunuhnya. Sekarang, pasti peluru itu bersemayam di jantungnya. Darah berhamburan dari bekas lukanya.
                Skye menjerit-jerit seperti kesetanan. Tapi dia tak beranjak satu sentipun dari tempatnya.
                Aku berlari kearah Skye. Meraih pisau dagingku. Dan saat aku berhadapan dengannya, aku tersenyum dingin. Skye tidak mengatakan apa-apa. Kurasa dia terlalu takut.
                Tanpa belas kasihan, aku menikam jantungnya dengan pisau daging yang kudapatkan. Mata nya membelalak, nafasnya tesengal-sengal. Sampai akhirnya, aku tak merasakan dia bernafas lagi.
                Aku membelah tubuhnya. Mengeluarkan jantungnya. Aku meraih tangan Skye. Memotong jari-jari lentiknya dengan pisau. Dia tidak berteriak. Nyawanya sudah hilang. Kalau masih bernyawa, aku yakin dia akan berteriak kencang dengan suaranya yang melengking.
                Aku mengkuliti badannya, mencincang dagingnya, menghancurkan juga semua organ dalamnya. Dalam waktu yang singkat, pisauku penuh dengan darah. Terlihat mengkilat di bawah sinar bulan.
                Aku mengambil sebuah botol kecil, membuka tutupnya. Kemudian aku meneteskan darah Skye ke botol kecil itu. "Sparkling Red Juice..." desisku.
                Aku menyalakan api, membakar mayat Skye agar tak bersisa. Aku berjalan pelan kearah mayat Takeru yang sudah dingin.
                Aku mencium bibir mayat Takeru. Sebuah ciuman yang panjang. Sampai aku melepasnya, karena tidak dapat menemukan kehangatan di sana. Dia sudah mati. Sudah pergi. Aku yang membunuhnya...
                Aku menguburkan mayat Takeru. Tidak membuat sebuah gundukan, aku meratakannya dengan tanah. Agar tak ada yang bisa menemukannya.
                Aku kembali ke mayat Skye. Sudah menjadi abu. Aku mengambilnya sedikit, kumasukkan kedalam botol kecil yang sudah ada darah Skye. Aku mengocoknya.
                Aku meraih botol minumanku, kemudian mencampurkan campuran darah dan abu ke air minumku. Aku menegaknya seperti kehausan.
                Abu Skye kubawa. Kemudian aku tiup ke udara. Selamat tinggal Skye...
Chapter 4 : Another Lie
‘     “A.. Aku tidak tahu... Hiks,” aku menangis sesengukan. Sebenarnya, pura-pura menangis sesengukan.
            “Kita hanya bisa pasrah... Semoga mereka pulang,” Mama memasang wajah sedih, begitu pula Papa.
            Maaf aku berbohong. Mereka bukannya hilang karena pergi berdua. Tapi aku yang membuat mereka berdua pergi. Maaf aku berbohong...
**The End**

1 comment:

Gimme some cookies?