Sequel dari TEARS OF THE FIRST LOVE ~STORY~
Atas permintaan Alifah Igor Tarigan Queen Alifah The Third :D
My friend, L, as Hideo :D
My friend, L, as Hideo :D
Tears of the First Love ~Story~ Sequel:
SPARKLING RED JUICE
Author: Za-ra
Rate: M for bloody scene
Genre: Angst/Crime
Warning: Bloody scene all over the story, gaje, abal,
aneh, better to read the first story: Tears of the First Love ~Story~
Aku tidak peduli lagi tentang apapun. Meskipun jalan
yang kuambil merupakan pilihan terakhir yang membuatku lebih kotor, lebih
berdosa dari pada makhluk hidup lain yang hidup di bumi. Persetan dengan
semuanya, aku benci dia...
Chapter 1 : Meet
“Saphire!”
lengking seseorang, memanggil namaku. Lamunanku buyar. Ah, dia.
Aku
sedang di bandara, menjemput kepulangan Mama dan Skye, bersama Papa. Dan tebak
apa, dia ada di hadapanku sekarang. Dan tahu tidak, dia menggandeng cowok itu.
Ya, cowok itu...
Takeru
Yo, suaminya, sekaligus cowok yang kutaksir, sampai sekarang. Aku kenal cowok
itu, Takeru Yo, di Facebook, dan dengan menyebalkan, Skye menikahinya. Cih,
dasar kakak sialan si Skye itu!
Aku
dendam padanya. Bisa-bisanya dia dan aku naksir cowok yang sama (walau dia gak
tahu aku naksir suaminya sampai sekarang. Kita tinggal terpisah dan tidak
pernah sama sekali berkomunikasi), dan kemudian dia menikahi cowok itu. Shit,
apa-apaan itu?!
Dan
sekarang, Skye dan suaminya itu ada di depanku, dengan wajah bahagia. Damn,
benar-benar menyebalkan.
Seseorang
memelukku dengan erat. Pasti Skye. Bau parfumnya tercium jelas di hidungku.
Baunya manis, sangat manis, aku curiga komposisi parfum itu termasuk esens es
krim dan satu batang lolipop. Sangat bukan tipe parfum kesukaanku. Aku suka
yang menyengat, tapi tidak manis.
Skye
melepaskan pelukannya, berdiri di hadapanku dengan wajah berseri-seri. Rambut
merahnya berkibar tertiup angin sepoi-sepoi, menimbulkan efek dramatis. Dia
memakai tanktop pink, jaket abu-abunya dia ikat di pinggang. Dia melengkapinya
dengan hotpants jeans-nya, juga wedges pink dan kacamata ber-frame merah. Dia
melapisi wajahnya dengan bedak tipis, memakai maskara dan memoles bibirnya
dengan lipstick baby pink.
Takeru,
kakak iparku yang sangat kucintai setengah mati (sebagai laki-laki, bukan
kakak), dia memakai t-shirt putih dengan potongan leher v-neck dan celana
jeans. Dia menggunakan sneakers hitam. Simple. Seksi.
Engh,
ternyata Takeru (yang merupakan laki-laki yang kucintai sampai sekarang.
Persetan dengan pernikahannya dengan Skye) aslinya lebih seksi daripada
fotonya. Kulitnya putih bagai mutiara, bersinar di bawah matahari bagaikan
kristal. Wajahnya tegas, terlihat dingin, tapi imut pada saat yang bersamaan.
“Apa
kabarmu?” tanya Skye dengan semangat menggebu-gebu. Sepertinya dia mau meledak.
Aku hanya menatapnya dingin.
“Eh?
Ini suamiku, Tekeru!” Skye mungkin menyadari aku berubah sikap, jadi dia
langsung mengubah arah pembicaraan.
“Takeru
Yo, desu!” kata Takeru. Oh astaga, suaranya seksi sekali.
“Saphire
Rose Angelline, desu. Yoroshiku onegaishimasu!” jawabku. Gini-gini aku juga
bisa Bahasa Jepang sedikit-sedikit!
“Saphire?
Angelline? Tunggu sepertinya kenal...” Takeru terlihat berfikir. Ayo, ingat
aku. Ingat aku...
“Saphira
Saphire Angelline, eh?” akhirnya dia mengingatnya! Aku mengangguk.
“Benar,”
aku tersenyum sedikit.
Takeru
memelukku. Dia mengangkatku ke udara seperti anak kecil. “Saphire my lil’
sister!” teriaknya. Aku tertawa renyah. Meskipun dia menganggapku sebagai adiknya,
terserah. Yang penting dia memelukku. It does feels like heaven... Yeah, karena
aku memang cinta padanya.
“Ho?
Kalian sudah kenal, ya?” tanya Skye, melongo. Cih, tambah jelek saja! Aku tidak
mengerti Takeru kelilipan pasir dari negara mana sampai mau menikah dengan
Skye. Bagusan juga aku kemana-mana!
Takeru
menurunkanku dan melepas pelukannya. “Ya, kami kenal di Facebook. Adikmu ini
lucu, sekali lho, love.” Takeru tersenyum menggoda. Bukan untukku, untuk Skye.
Cih.
“Kau
lupa dia adik siapa. Dia adikku, dear~” balas Skye. Cih, aku muak! Aku sebal!
Benci! Benci! Benci!
Papa
menyela, sambil menggandeng mama, “ayo pulang. Kalian pasti capek, kan?” kata
Papa. Membuat kami semua diam dan mengikutinya ke parkiran.
***
Sampai
di rumah, aku lansung masuk ke kamarku, tidak lupa untuk membanting pintunya. Aku
lansung membaringkan diriku di kasur. Tapi belum lima menit aku beristirahat,
ada ketukan di pintu. Aku membukanya. Ugh, Skye!
“Boleh
aku pakai kamar mandimu, Saphire? Kamar mandi di kamarku di pakai Takeru...”
kata Skye.
Rasanya
aku ingin menyahut ‘mandi saja sana sama Takeru-mu! Dia kan suamimu!’ tapi tak
jadi. Nanti dia benar-benar memakai saranku. Otaknya kan gak pernah betul dari
dulu.
“Silahkan
pakai,” aku memutuskan memberikannya tumpangan untuk mandi di kamar mandiku.
“Terimakasih!”
serunya girang, sebelum melesat ke kamar mandi.
Aku
menghabiskan waktu dengan membaca buku. Tak lama, aku mendengar pintu kamar
mandi dibuka.
“Terimakasih,
ya, Saphire! Um, untuk sementara sabun dan shampoo-ku kutitip di kamar mandimu,
boleh?” tanyanya. Aku mengiyakan saja supaya cepat.
Aku
masuk ke kamar mandiku, bau sabun Skye tercium. Oh, astaga! Aku melangkah
masuk, menuju kearah rak yang berisi sabun dan shampoo. Aku meraih sabun yang
asing, sabun milik Skye.
Aku
membaca tulisan di botol sabun cair milik Skye. Ugh, pantas saja! Dia memakai
es krim rasa vanilla untuk mandi! Aku juga meraih shampoo-nya. Gah, dia juga
memakai es krim vanilla yang sama untuk keramas, rupanya!
Sabar,
Saphire, sabar. Hidupmu belum berakhir sekarang. Kau masih terlalu muda untuk
bunuh diri...
Chapter 2 : Vacation
“Hah? Aku?” mataku terbelalak.
“Iya!
Kami ingin mengajakmu juga. Aku sangat merindukanmu, tau, Saphire! Maka itu,
kami ingin mengajakmu liburan sama-sama!” Skye nyengir, Takeru tersenyum.
“Oke,
aku ikut,” aku memaksakan tersenyum, dan dalam hati aku melanjutkan
perkataanku, ‘demi Takeru’.
“Kita
berangkat siang ini,” Takeru tersenyum manis.
“Ayo
siap-siap!” seru Skye girang. Huh, cerewet!
***
Aku
lupa apa yang terjadi selama perjalanan. Tiba-tiba saja, aku sudah terbaring di
kasur penginapan. Halah, peduli amatlah!
Aku
sendirian di kamar ini. Berarti Skye dan Takeru ada di kamar sebelah. Aku keluar
dari kamar, tentunya setelah membereskan penampilanku.
“Hei!”
aku mendengar seseorang menyapaku. Aku menengok. Eh? Orang asing?
“Siapa
namamu? Aku anak pemilik penginapan. Hideo Stephenson!” aku pasang wajah
bingung. Namanya belasteran banget! Dan satu lagi, marga-nya sama dengan marga
sahabatku yang bernama Amber Stephenson. Dunia akan terasa sangat kecil kalau
mereka ternyata sepupu.
“Saphire
Rose Angelline,” aku tersenyum sedikit.
“Di
basement penginapan ini ada bar-nya, lho. Mau kesana?” Hideo tersenyum iseng.
“Ayo!”
aku menyanggupinya.
***
“Kau
mau apa? Pernah minum sebelumnya? Kalau belum, biar kupesankan soda,” tanya
Hideo.
“Aku
mau cocktail. Pilihkan cocktail apapun lah, terserah. Dan ya, aku pernah minum.
Wine sekali pada acara keluarga, champagne pada pernikahan teman papaku,
beberapa kali cocktail juga,” aku menjawab sembari dia memesan minuman.
“Kamu
kelihatan masih kecil...” dia memasang wajah curiga.
“Ho,
terima kasih,” aku memutar bola mataku.
“Aku
tidak tega mencekoki anak kecil dengan cocktail. Kamu kubelikan soda,” Hideo
menyerahkan soda padaku. Ha, dia ternyata juga cuma beli soda! Kupikir, dia
justru mau minum apa, gitu. Bourbon, cognac, vodka, sherry, gin, tequila,
champagne, atau apalah terserah.
“Hey,
Hideo,” kataku, memanggil namanya.
“Hm?”
balasnya, sambil menyeruput sodanya.
“Kalau
kamu naksir seseorang, benar-benar cinta mati padanya, kemudian dia menikah
dengan seseorang. Apa yang kira-kira akan kamu lakukan?” tanyaku.
“Aku?
Aku mungkin akan jadi orang paling jahat sedunia. Aku akan membunuh orang itu,”
kata Hideo dengan nada dingin. Aku tersedak soda.
“Gila
kamu!” kataku kaget, setelah bisa mengatur nafas.
“Aku
gak mau kehilangan orang yang kusayang. Itu saja,” jawab Hideo kalem.
“Wow,
kamu keren, Hideo!” aku tersenyum.
“Hahaha.
Nah, kurasa aku ingin memberikanmu ini,” Hideo mengeluarkan pistol dari
sakunya. Aku kaget, buat apa dia bawa-bawa pistol?
“Hi-Hideo?”
aku memandangnya penuh tanda tanya.
“Siapa
tahu kamu butuh. Simpan saja.” Hideo memberikan pistolnya padaku, beserta
beberapa peluru berwarna keperakan.
Kami
berdua menghabiskan soda kami dalam diam...
***
Aku
melangkah ke dapur penginapan. Mengambil sebuah pisau daging. Seperti kata
Hideo sebelumnya, siapa tahu aku membutuhkannya...
***
Chapter 3 : Under The Moonlight
“Skye,
Takeru! Ayo temani aku ke hutan. Ayo kita melihat bulan!” aku berkata dengan
ramah. Tanganku kumasukkan ke kantung jaketku. Jariku bisa merasakan ujung
pistol disana. Terasa hangat.
“Ayo!”
seru Skye, dan dalam lima menit berikutnya, kami sudah berjalan menuju hutan.
Aku
memimpin jalan dalam diam. Terkadang aku mendengar Skye bersenandung tidak
jelas.
Kami
sampai. Tepat di tengah hutan. Tempat yang sangat sepi.
“Eh?
Memang disini bisa melihat bulan?” tanya Skye polos.
“Gelap
dimana-mana,” celetuk Takeru iseng.
Di
dalam kantung jaketku, aku memasukkan satu peluru berwarna keperakan pemberian
Hideo. Aku mengeluarkannya. Menimang-nimang pistol itu di hadapan Skye dan
Takeru. Mata Skye membelalak.
Aku
mengarahkan pistol itu kearah Takeru, yang memasang wajah kagetnya. Tanpa ba-bi-bu,
aku menembaknya. Bunyinya keras, tapi tidak akan terdengar. Kami benar-benar
ada di tengah hutan.
Peluru
itu secepat kilat membunuhnya. Sekarang, pasti peluru itu bersemayam di
jantungnya. Darah berhamburan dari bekas lukanya.
Skye
menjerit-jerit seperti kesetanan. Tapi dia tak beranjak satu sentipun dari
tempatnya.
Aku
berlari kearah Skye. Meraih pisau dagingku. Dan saat aku berhadapan dengannya,
aku tersenyum dingin. Skye tidak mengatakan apa-apa. Kurasa dia terlalu takut.
Tanpa
belas kasihan, aku menikam jantungnya dengan pisau daging yang kudapatkan. Mata
nya membelalak, nafasnya tesengal-sengal. Sampai akhirnya, aku tak merasakan
dia bernafas lagi.
Aku membelah tubuhnya. Mengeluarkan jantungnya.
Aku meraih tangan Skye. Memotong jari-jari lentiknya dengan pisau. Dia tidak
berteriak. Nyawanya sudah hilang. Kalau masih bernyawa, aku yakin dia akan
berteriak kencang dengan suaranya yang melengking.
Aku mengkuliti badannya,
mencincang dagingnya, menghancurkan juga semua organ dalamnya. Dalam waktu yang
singkat, pisauku penuh dengan darah. Terlihat mengkilat di bawah sinar bulan.
Aku mengambil sebuah botol
kecil, membuka tutupnya. Kemudian aku meneteskan darah Skye ke botol kecil itu. "Sparkling Red Juice..." desisku.
Aku menyalakan api, membakar
mayat Skye agar tak bersisa. Aku berjalan pelan kearah mayat Takeru yang sudah
dingin.
Aku mencium bibir mayat Takeru. Sebuah
ciuman yang panjang. Sampai aku melepasnya, karena tidak dapat menemukan
kehangatan di sana. Dia sudah mati. Sudah pergi. Aku yang membunuhnya...
Aku menguburkan mayat Takeru. Tidak
membuat sebuah gundukan, aku meratakannya dengan tanah. Agar tak ada yang bisa
menemukannya.
Aku kembali ke mayat Skye. Sudah
menjadi abu. Aku mengambilnya sedikit, kumasukkan kedalam botol kecil yang
sudah ada darah Skye. Aku mengocoknya.
Aku meraih botol minumanku,
kemudian mencampurkan campuran darah dan abu ke air minumku. Aku menegaknya
seperti kehausan.
Abu Skye kubawa. Kemudian aku
tiup ke udara. Selamat tinggal Skye...
Chapter 4 : Another Lie
‘ “A.. Aku tidak tahu... Hiks,”
aku menangis sesengukan. Sebenarnya, pura-pura menangis sesengukan.
“Kita
hanya bisa pasrah... Semoga mereka pulang,” Mama memasang wajah sedih, begitu
pula Papa.
Maaf
aku berbohong. Mereka bukannya hilang karena pergi berdua. Tapi aku yang
membuat mereka berdua pergi. Maaf aku berbohong...
**The End**
ASTAGFIRULLAHALAZIM! YA ALLAH YA ROBI!
ReplyDelete